NABIRE, PAPUTENG.com –
Wakil Ketua Komisi V DPR RI dari Fraksi Partai NasDem, Robert Rouw, melakukan kunjungan kerja ke Daerah Irigasi Bumi Raya, Distrik Nabire Barat, Kabupaten Nabire, Provinsi Papua Tengah. Senin (27/4/2026), guna meninjau langsung pembangunan jaringan irigasi tersier sekaligus menyerap aspirasi masyarakat petani.
Dalam kunjungan tersebut, Robert meninjau area tersier yang telah rampung dibangun di kawasan irigasi Bumi Raya dengan cakupan lahan sekitar 6.400 hektare. Kehadiran legislator asal Papua itu menjadi bagian dari agenda pengawasan pembangunan infrastruktur pertanian sekaligus memastikan manfaat program benar-benar dirasakan masyarakat.

“Saya sebagai wakil rakyat dari daerah pemilihan Papua, termasuk Kabupaten Nabire, hari ini melakukan kunjungan langsung untuk melihat pembangunan tersier di Bumi Raya dan memantau progresnya secara langsung,” ujar Robert Rouw.
Ia menegaskan, kunjungan ke daerah pemilihan merupakan kewajiban moral dan politik seorang anggota DPR RI, bukan sekadar hadir saat masa kampanye. “Kami dari Fraksi NasDem berusaha hadir di tengah masyarakat, minimal setahun sekali. Jangan hanya datang saat meminta suara lalu menghilang setelah terpilih,” tegasnya.
Robert juga mengingatkan masyarakat agar lebih bijak dan cerdas dalam menentukan pilihan politik, serta tidak mudah menukar suara dengan imbalan sesaat. Dalam dialog bersama warga, Robert menerima sejumlah aspirasi dari para petani di berbagai wilayah Nabire, termasuk Kelompok Tani dari Legari, Distrik Makimi, yang menyampaikan berbagai persoalan serius di sektor pertanian.

Perwakilan Kelompok Tani Kampung Biha, Distrik Makimi, Eko Wardoyo, mengungkapkan sejumlah kendala yang saat ini dihadapi petani, mulai dari keterbatasan alat dan mesin pertanian (alsintan), saluran irigasi tersumbat akibat sedimentasi, alih fungsi lahan sawah menjadi kolam ikan, hingga abrasi lahan pertanian akibat derasnya aliran Sungai Musairo.
“Kami menghadapi berbagai persoalan, mulai dari penggunaan alsintan yang tidak sesuai dengan kondisi sawah berlumpur, banyak lahan tidak tergarap karena irigasi tersumbat akibat penebangan kayu, alih fungsi lahan, hingga abrasi sekitar enam hektare akibat aliran Sungai Musairo,” ungkap Eko.
Menurutnya, sedimentasi yang menutup saluran irigasi diduga kuat dipicu aktivitas penebangan kayu oleh perusahaan tertentu, sehingga material tanah menumpuk dan menghambat distribusi air ke area persawahan.
Sementara itu, luapan Sungai Musairo saat musim hujan terus menggerus lahan produktif petani. Menanggapi keluhan tersebut, Robert Rouw memastikan persoalan para petani akan segera ditindaklanjuti bersama instansi teknis terkait, termasuk Balai Wilayah Sungai (BWS) Papua. “Segera kami akan turun melakukan peninjauan agar langkah penanganan bisa dilakukan secepatnya. Di sini juga hadir pihak BWS Papua yang memiliki kewenangan dan kompetensi untuk menangani persoalan sedimentasi maupun irigasi,” jelasnya.

Kunjungan ini diharapkan menjadi langkah awal percepatan penyelesaian berbagai persoalan pertanian di Nabire, khususnya dalam menjaga produktivitas lahan dan kesejahteraan petani di wilayah sentra pangan Papua Tengah.

