Anggota DPR Papua Tengah Soroti Praktik Calo Tiket Pesawat Rute Nabire–Intan Jaya

Ketua Komisi IV DPRP PT Henes Sondegou 

Nabire – PAPUTENG.COM – Ketua Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Provinsi Papua Tengah (DPRP PT), Henes Sondegou menyoroti masih maraknya praktik percaloan tiket pesawat yang diduga dilakukan oknum tertentu, khususnya pada rute penerbangan Nabire menuju Kabupaten Intan Jaya.

Sorotan tersebut disampaikan Henes saat diwawancarai awak media PAPUTENG.COM terkait harga tiket pesawat subsidi dari Nabire ke Intan Jaya.

Menurutnya, sejak Maret 2026 telah dilakukan pertemuan antara Pemerintah Kabupaten Intan Jaya, Gereja Katholik, perwakilan DPRD, Dinas Perhubungan, TNI-Polri, serta pihak maskapai penerbangan guna membahas penetapan harga tiket subsidi.

Dari hasil pertemuan tersebut disepakati harga tiket reguler bersubsidi yang mulai diberlakukan sejak 9 Maret 2026, yakni rute Sugapa–Nabire/Timika sebesar Rp1.000.000 dan Nabire/Timika–Sugapa sebesar Rp2.000.000. Sementara untuk penerbangan carter, tarif Nabire–Sugapa ditetapkan Rp25.000.000 dan Timika–Sugapa Rp23.000.000.

Namun, di lapangan masih ditemukan adanya praktik penjualan tiket di atas harga yang telah disepakati. “Praktik di lapangan harga tiket yang sudah disepakati ternyata ada oknum yang memanfaatkan kesempatan ini, sehingga tiket dijual di atas harga normal mulai Rp1.500.000 hingga Rp3.000.000 per tiket,” kata Henes.

Ia mengungkapkan, harga tersebut belum termasuk biaya bagasi yang juga harus dibayar penumpang. Jika ditotal, masyarakat harus mengeluarkan biaya hingga Rp5.000.000 untuk sekali perjalanan.

“Ini jelas membebani keuangan masyarakat. Kasihan mereka. Di sana ada masyarakat umum, ASN, TNI-Polri yang gajinya mungkin hanya cukup untuk membiayai kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Henes juga menyoroti subsidi penerbangan yang saat ini baru berasal dari Pemerintah Pusat, sementara dukungan subsidi dari pemerintah kabupaten maupun provinsi dinilai belum maksimal dirasakan masyarakat.

Untuk menyikapi persoalan tersebut, Komisi IV DPRP PT telah mengundang Dinas Perhubungan Provinsi Papua Tengah guna mencari solusi terkait subsidi penerbangan maupun praktik percaloan tiket.

“Kemarin kami mengundang pihak Dinas Perhubungan provinsi guna mencari solusi terkait subsidi dan percaloan tiket,” jelasnya. Ia berharap persoalan tersebut tidak hanya dibahas melalui Rapat Dengar Pendapat (RDP), tetapi juga melalui forum yang lebih luas dengan melibatkan seluruh pihak terkait.

Selain di Kabupaten Intan Jaya, Henes menilai persoalan serupa juga terjadi di Kabupaten Puncak. Ia pun meminta pemerintah memprioritaskan subsidi penerbangan di dua wilayah tersebut karena dinilai paling membutuhkan dan rawan praktik mafia tiket.

“Saya harap pemerintah fokuskan subsidi di dua tempat dulu, Kabupaten Intan Jaya dan Puncak karena dua tempat paling membutuhkan dan rawan mafia tiket,” pungkasnya. (red-paputeng)

Peredaran Obat dan Kosmetik Ilegal di Papua Tengah Masih Marak, Loka POM Tingkatkan Pengawasan

Nabire – PAPUTENG,COM – Peredaran obat dan kosmetik ilegal di wilayah Papua Tengah, khususnya di Kabupaten Nabire, masih menjadi perhatian serius selama periode 2025–2026. Produk tanpa izin edar hingga kosmetik yang mengandung bahan berbahaya masih ditemukan beredar, baik melalui toko offline maupun penjualan daring di media sosial dan marketplace.

Selain kosmetik ilegal, peredaran obat-obatan tanpa resep dokter juga masih marak ditemukan, terutama obat golongan antibiotik. Temuan tersebut berdasarkan hasil pengawasan rutin, kegiatan intelijen, dan penindakan yang dilakukan oleh Loka Pengawas Obat dan Makanan (Loka POM) di Kabupaten Mimika sepanjang tahun 2025.

Pihak Loka POM menyebutkan, pengawasan terus diperkuat untuk melindungi masyarakat dari risiko penggunaan produk yang tidak memenuhi ketentuan keamanan, mutu, dan manfaat. Berbagai langkah pengawasan telah dilakukan, di antaranya edukasi kepada masyarakat dan pelaku usaha terkait pentingnya memilih produk yang aman dan legal.

Selain itu, pengawasan rutin maupun intensifikasi juga dilakukan terhadap toko, kios kosmetik, apotek, hingga toko obat di sejumlah wilayah Papua Tengah. “Pengawasan dilakukan tidak hanya secara langsung di lapangan, tetapi juga melalui patroli siber terhadap akun maupun sarana penjualan online yang menjual produk obat dan kosmetik,” Kata Kepala Loka POM Mimika, Rudolf Suryapanduwinata Bonay melalui WhatsApp, Selasa (12/5/26)

Dalam upaya memastikan keamanan produk yang beredar, petugas juga melakukan pengambilan sampel untuk diuji di laboratorium. Sementara itu, tindakan penegakan hukum menjadi langkah terakhir terhadap pihak yang dengan sengaja mengedarkan produk yang tidak memenuhi ketentuan.

Loka POM juga mengimbau masyarakat agar lebih berhati-hati sebelum membeli obat maupun kosmetik. Masyarakat diminta memastikan produk memiliki nomor izin edar BPOM, memeriksa label dan informasi produsen, komposisi, serta tanggal kedaluwarsa.

Warga juga diminta menghindari produk dengan kemasan polos tanpa informasi lengkap serta tidak mudah tergiur harga murah maupun produk viral yang marak dipromosikan di media sosial.

“Jika menemukan dugaan peredaran obat atau kosmetik ilegal, masyarakat diharapkan segera melaporkannya kepada pihak berwenang,” lanjutnya.

Meski pengawasan terus dilakukan, Loka POM mengakui masih menghadapi sejumlah kendala, baik teknis maupun nonteknis. Luasnya wilayah Papua Tengah dan sulitnya akses transportasi menuju daerah pedalaman menjadi tantangan utama dalam pelaksanaan pengawasan.

Selain itu, maraknya distribusi produk ilegal melalui jalur online dinilai semakin sulit dipantau karena pergerakannya yang cepat. Keterbatasan sumber daya pengawasan dibanding luas wilayah kerja juga menjadi hambatan tersendiri.

Di sisi lain, rendahnya kesadaran masyarakat terhadap bahaya produk ilegal dan tingginya minat terhadap produk viral dengan klaim berlebihan turut memperparah kondisi tersebut.

Pelaku usaha juga kerap menjual produk secara sembunyi-sembunyi atau berpindah tempat untuk menghindari pengawasan.

Loka POM berharap pemerintah provinsi maupun pemerintah daerah dapat memperkuat sinergi pengawasan bersama BPOM dan aparat keamanan melalui pembentukan Tim Koordinasi Pembinaan dan Pengawasan Obat dan Makanan sesuai surat edaran Menteri Dalam Negeri.

Selain itu, dinas kesehatan dan dinas perdagangan diharapkan dapat melaksanakan pengawasan mandiri melalui program pengawasan obat dan makanan guna menekan peredaran produk ilegal di Papua Tengah. (red-paputeng).

Komisi IV DPR Papua Tengah Soroti Minimnya Keterlibatan OAP di Sarana Vital Pemerintah 

Nabire – PAPUTENG.COM – Minimnya keterlibatan Orang Asli Papua (OAP) dalam pengelolaan sarana vital milik Pemerintah Provinsi Papua Tengah mendapat sorotan tajam dari Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Papua Tengah (DPR PT) dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) yang digelar Selasa, 12 Mei 2026.

Anggota Komisi IV DPR Papua Tengah, Aloisius Paerong, mempertanyakan persentase keterlibatan OAP sebagai pegawai di Bandara Douw Aturure Nabire. Menurutnya, keberadaan pegawai OAP di sejumlah layanan strategis bandara masih sangat minim.

Ia menilai kondisi tersebut terlihat mulai dari ruang check-in hingga berbagai layanan publik lainnya di kawasan bandara. “Pemerintah Provinsi melalui Dinas Perhubungan yang membangun bandara dan menyediakan seluruh fasilitasnya. Namun mengapa kesempatan kerja bagi OAP masih sangat sedikit. Seharusnya kewenangan itu ada pada pemerintah,” ujarnya dalam forum RDP.

Selain sektor kepegawaian, Aloisius juga menyoroti belum adanya kios makanan maupun pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) lokal yang dikelola masyarakat asli Papua di Bandara Douw Aturure. Ia mengaku meragukan data persentase kepegawaian yang disampaikan Dinas Perhubungan Papua Tengah terkait komposisi pegawai OAP dan non-OAP.

“Saya hampir setiap hari menerima aduan masyarakat terkait kondisi kepegawaian di bandara. Jika fakta di lapangan seperti ini, tentu dapat memicu kecemburuan sosial dan memperlebar kesenjangan,” tegasnya.

Tak hanya itu, politisi Fraksi Perindo tersebut juga menyoroti pelaksanaan tender proyek di lingkungan Dinas Perhubungan Papua Tengah yang dinilai belum sepenuhnya menyentuh hak dan keterlibatan OAP.

Menurutnya, sejumlah proyek pembangunan yang bersumber dari Dinas Perhubungan masih lebih banyak dikerjakan pihak non-OAP. Ia berharap pemerintah daerah, khususnya Dinas Perhubungan, dapat lebih memprioritaskan pelibatan masyarakat asli Papua dalam berbagai program pembangunan, termasuk pengisian tenaga kerja di fasilitas strategis seperti bandara.

“Ke depan saya berharap pegawai di bandara, counter pelayanan, hingga kios-kios usaha dapat diisi oleh OAP,” katanya. Dalam kesempatan itu, Aloisius juga mendorong Dinas Perhubungan agar tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi turut mengedepankan penguatan sektor pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia (SDM).

Menurutnya, peningkatan kualitas SDM OAP penting dilakukan agar mampu bersaing dan mengisi posisi strategis di sektor transportasi darat, laut, maupun udara di Papua Tengah.

Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Papua Tengah, Ewonggen Kokoya, menyampaikan bahwa pihaknya secara bertahap terus meningkatkan keterlibatan OAP di lingkungan kerja Dinas Perhubungan.

“Untuk pegawai di Kantor Dinas Perhubungan, sekitar 80 persen sudah diisi OAP. Untuk bidang lain kami sesuaikan dan lakukan secara bertahap,” ujarnya. (red-paputeng)

IPMADO Gelar Aksi Unjuk Rasa di Depan Gedung DPR Papua Tengah 

 

Nabire – PAPUTENG.COM – Ikatan Pelajar Mahasiswa Dogiyai (IPMADO) menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung DPR Papua Tengah, Senin (11/5/2026). Massa aksi sebelumnya berkumpul di sejumlah titik di Kota Nabire, di antaranya depan Kampus Uswim Nabire, Pasar Karang Tumaritis, dan seputaran Hotel Andaman Bumi Wonorejo sebelum bergerak menuju kantor DPR Papua Tengah.

Dalam orasinya, massa menuntut keadilan atas peristiwa “Dogiyai Berdarah” yang terjadi pada akhir Maret 2026 lalu. Mereka menegaskan masyarakat Dogiyai mendambakan kedamaian dan menolak segala bentuk kekerasan yang terus berulang.

“Kami masyarakat di Dogiyai mendambakan keadilan dan kedamaian, tetapi kami menolak tegas setiap tindakan kekerasan yang berujung pertumpahan darah yang terus berulang-ulang,” ujar salah satu orator aksi. Massa juga memaparkan kronologi peristiwa yang terjadi pada 30 Maret 2026.

Saat itu, sesosok mayat ditemukan di parit dekat sebuah gereja dan kemudian diidentifikasi sebagai anggota Polres Dogiyai bernama Juventus Edowai yang mengalami luka akibat senjata tajam.

Meninggalnya anggota Polres Dogiyai tersebut diduga menjadi pemicu tindakan represif aparat yang menyebabkan lima warga sipil meninggal dunia. Dalam aksi tersebut, IPMADO menyampaikan sejumlah tuntutan, di antaranya mendesak pengusutan tuntas atas kematian anggota kepolisian dan lima warga sipil, pembentukan tim investigasi khusus, penegakan hukum yang adil dan transparan bagi seluruh pihak yang terlibat, serta penghentian pendekatan kekerasan dalam penyelesaian konflik.

Aksi unjuk rasa diterima langsung oleh Wakil Ketua IV DPR Papua Tengah, Jhon NR Gobai. Di tengah penjagaan ketat aparat keamanan, massa menyerahkan peti mati dan salib sebagai simbol duka cita atas korban yang berjatuhan dalam peristiwa tersebut.

Simbol itu disebut merepresentasikan rasa kehilangan mendalam yang dirasakan masyarakat Dogiyai terhadap para korban meninggal dunia. Dalam pernyataannya di hadapan massa aksi, Jhon Gobai berjanji akan mengawal dan mengusut tuntas kasus “Dogiyai Berdarah” hingga ke akar persoalan.

Ia juga menyatakan akan mendesak Kapolda Papua Tengah agar proses hukum dilakukan secara terbuka dan transparan. Menutup pertemuan tersebut, Jhon Gobai mengingatkan Pemerintah Daerah dan DPRK Dogiyai agar bersinergi mengawal kasus tersebut hingga tuntas.

Menurutnya, penyelesaian hukum yang adil menjadi kunci utama untuk mengembalikan rasa aman dan kenyamanan bagi seluruh masyarakat di Kabupaten Dogiyai. (red-paputeng)

700 Personel Gabungan Diterjunkan Amankan Dua Aksi Demonstrasi di Nabire

Nabire – PAPUTENG.COM – Sebanyak 700 personel gabungan dari Polri, TNI, dan Satpol PP diterjunkan untuk mengamankan dua aksi demonstrasi dengan tuntutan berbeda yang berlangsung di Kabupaten Nabire, Papua Tengah, Senin (11/5/2026).

Kedua massa aksi diketahui memiliki satu titik tujuan yang sama, yakni Gedung DPR Papua Tengah (DPRPT). Aksi demonstrasi pertama yang tiba di Gedung DPRPT di kawasan Gedung Karel Gobai (Kargo), jantung Kota Nabire, diterima langsung oleh jajaran pimpinan dan anggota DPR Papua Tengah.

Mereka di antaranya Wakil Ketua II DPRPT Izack Suripaty, Wakil Ketua IV Jhon NR Gobai, serta anggota DPRPT Katering Maruanaya, Yulius Yapugau, dan Henes Sondegou.

Kapolres Nabire, AKBP Samuel Tatiratu, S.I.K., mengatakan pengerahan ratusan personel dilakukan guna mencegah potensi gesekan antar massa aksi yang memiliki agenda berbeda namun menuju lokasi yang sama.

“Hari ini di Kabupaten Nabire, Papua Tengah akan berlangsung dua aksi demo dengan satu target sasaran yaitu Gedung DPRPT. Guna mencegah terjadinya kesalahpahaman hingga kemungkinan bentrok dua kubu, kami menerjunkan sekitar 700 personel ke lapangan untuk memberikan pengamanan,” ujar Samuel Tatiratu.

Kapolres juga menegaskan aparat kepolisian bersikap netral dalam mengawal jalannya demonstrasi. Penegasan tersebut disampaikan untuk merespons potensi munculnya anggapan adanya keberpihakan aparat terhadap salah satu kelompok massa.

“Kami pihak kepolisian tidak ada keberpihakan kepada satu kelompok. Di mata hukum semua warga memiliki hak yang sama. Sikap kami jelas, netral dan tidak berpihak kepada salah satu kelompok demo,” tegasnya.

Selain itu, pihak kepolisian telah mengatur mekanisme pengamanan, termasuk teknis longmarch menuju Kantor DPR Papua Tengah, agar seluruh rangkaian aksi dapat berjalan tertib dan aman.

Kapolres berharap seluruh simpatisan dan peserta aksi dapat memahami kebijakan pengamanan yang diterapkan aparat, sehingga tidak muncul penafsiran keliru yang dapat memicu tudingan ketidaknetralan aparat keamanan.

Hingga berita ini diturunkan situasi keamanan di Kabupaten Nabire terpantau relatif aman dan kondusif. Aktivitas perekonomian masyarakat juga masih berjalan normal.

Meski demikian, sejumlah pelaku usaha mikro kecil menengah (UKM), seperti pemilik warung makan dan pengemudi ojek, mengaku mengalami penurunan pelanggan akibat situasi demonstrasi yang berlangsung di pusat kota. (red-paputeng)

Gubernur Papua Tengah Akan Undang Seluruh Pemain Persipura ke Nabire

Nabire – PAPUTENG.COM – Gubernur Papua Tengah, Meki Fritz Nawipa menyatakan komitmennya untuk mengundang seluruh pemain Persipura Jayapura ke Nabire usai kekalahan dari Adhyaksa FC pada laga yang digelar Jumat (8/5/2026) di Stadion Lukas Enembe.

Pernyataan itu disampaikan Nawipa saat menghadiri nonton bareng (nobar) pertandingan antara Persipura melawan Adhyaksa FC di halaman Kantor Gubernur Papua Tengah, Nabire.

Menurut Nawipa, undangan tersebut merupakan bentuk perhatian dan dukungan penuh Pemerintah Provinsi Papua Tengah bersama masyarakat terhadap tim berjuluk Mutiara Hitam itu.

“Kami atas nama masyarakat dan Pemerintah Provinsi Papua Tengah mengundang seluruh tim Persipura untuk datang ke Nabire,” ujar Nawipa.

Ia menegaskan, langkah tersebut dilakukan guna mengobati rasa kecewa masyarakat sekaligus membangun kembali semangat para pemain dan seluruh tim setelah hasil pertandingan yang belum memuaskan.

Bagi Nawipa, perjuangan para pemain, pelatih, dan seluruh elemen tim tetap layak mendapat apresiasi tinggi meskipun harus menerima kekalahan 0-1 dari Adhyaksa FC.

“Kekalahan 0-1 dari Adhyaksa FC memang menyakitkan, kita semua kecewa, kita semua sedih. Tetapi ini pertandingan, tidak ada kemenangan mutlak. Persipura tetap tim kebanggaan dan darah kami,” katanya.

Gubernur yang juga berprofesi sebagai pilot itu menekankan bahwa dukungan pemerintah dan masyarakat Papua terhadap Persipura tidak akan berubah, baik saat meraih kemenangan maupun ketika mengalami kekalahan.

Ia berharap seluruh pemain dapat hadir memenuhi undangan tersebut, termasuk legenda Persipura seperti Boaz Solossa, Ferinando Pahabol, Ian Louis Kabes, para pemain muda, hingga staf pelatih yang telah berjuang membawa nama besar Persipura.

Menurut Nawipa, sebagai gubernur dan bagian dari masyarakat Papua, dirinya ingin menyampaikan apresiasi serta ucapan terima kasih secara langsung kepada tim yang selama ini telah mengharumkan nama Papua di kancah sepak bola nasional.(red-paputeng)

Aparat Polisi Tembak Mati Anggota KKB di Jalan Poros Dogiyai–Paniai

Dogiyai – PAPUTENG.COM – Aparat kepolisian menembak mati seorang anggota Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) usai melakukan aksi penembakan dan pengrusakan terhadap kendaraan warga serta kendaraan patroli polisi di Jalan Poros Dogiyai–Paniai, Minggu (10/5/2026).

Peristiwa tersebut bermula saat aparat kepolisian menerima laporan masyarakat terkait aksi penembakan terhadap satu unit mobil warga dan pengrusakan satu kendaraan lainnya menggunakan senjata tajam.

Menindaklanjuti laporan itu, personel kepolisian langsung diterjunkan ke lokasi guna melakukan patroli pengamanan dan penanganan situasi. Namun saat berada di lapangan, aparat justru mendapat serangan dari kelompok bersenjata tersebut.

Kapolres Dogiyai, Dennis Arya P mengatakan, tim patroli pengamanan sempat ditembaki oleh kelompok KKB sehingga aparat melakukan tindakan tegas dan terukur.

“Tim patroli pengamanan diserang KKB. Akhirnya tim melakukan tindakan tegas dan terukur, satu anggota tertembak,” ujar Dennis.

Setelah situasi berhasil dikendalikan, aparat melakukan penyisiran di sekitar lokasi kejadian. Anggota KKB yang terkena tembakan sempat melarikan diri ke area perkampungan warga sebelum akhirnya ditemukan dalam kondisi terluka dan kemudian dinyatakan meninggal dunia.

Dari hasil pemeriksaan di lokasi, polisi mengamankan sejumlah barang bukti berupa senjata rakitan, amunisi kaliber 5,56 milimeter, senjata tajam, panah, serta beberapa dokumen yang diduga berkaitan dengan aktivitas KKB di wilayah Papua Tengah.

Hingga kini, aparat kepolisian masih melakukan pendalaman kasus untuk mengungkap identitas pelaku serta kemungkinan keterlibatannya dengan jaringan KKB lainnya di wilayah tersebut.

Menyikapi insiden berdarah itu, aparat keamanan juga meningkatkan patroli di sekitar lokasi kejadian guna mengantisipasi adanya gangguan keamanan susulan. (red-paputeng)

Pemprov Papua Tengah Dorong Perluasan Akses Keuangan hingga Daerah Terpencil 

Pemerintah Provinsi Papua Tengah melalui Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) terus mendorong pemerataan layanan keuangan bagi masyarakat, terutama di wilayah terpencil dan kelompok ekonomi kecil seperti pelaku UMKM, petani, nelayan, hingga masyarakat adat.

Hal tersebut disampaikan dalam Rapat Pleno TPAKD Provinsi Papua Tengah yang dibuka Sekretaris Daerah Papua Tengah, Silwanus Sumule di Nabire, Kamis (7/5/2026).

Dalam sambutan Gubernur Papua Tengah Meki Nawipa yang dibacakan Sekda Papua Tengah, dijelaskan bahwa akses terhadap layanan keuangan formal masih menjadi tantangan pembangunan di Papua Tengah. Keterbatasan akses tersebut dinilai berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat dan pemerataan pembangunan antarwilayah.

“Melalui TPAKD, pemerintah ingin memastikan masyarakat, terutama Orang Asli Papua, dapat merasakan langsung manfaat program pembangunan ekonomi daerah,” ujar Sumule saat membacakan sambutan gubernur.

Pemerintah Provinsi Papua Tengah juga menegaskan arah pembangunan daerah yang berfokus pada penguatan ekonomi kerakyatan melalui pemberdayaan UMKM dan koperasi, peningkatan akses pembiayaan, serta pengembangan sektor unggulan daerah.

Selain itu, pemerintah meminta seluruh pemangku kepentingan memperluas jangkauan layanan keuangan hingga daerah terisolasi, memperkuat sinergi antara pemerintah daerah, perbankan dan Otoritas Jasa Keuangan, serta meningkatkan literasi keuangan masyarakat.

Rapat pleno TPAKD tahun 2026 ini diharapkan menghasilkan langkah-langkah konkret untuk mempercepat inklusi keuangan dan memperkuat pembangunan ekonomi di Papua Tengah. (red-paputeng).

Mama Emi, Potret Ketangguhan Perempuan Papua di Tengah Riuh Politik 

Papua Tengah – PAPUTENG.COM -Kaesang Pangarep hadir di Nabire membawa semangat konsolidasi politik Partai Solidaritas Indonesia (PSI) di Papua Tengah. Namun di tengah gemuruh yel-yel kader, tepuk tangan, dan atmosfer kemenangan Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil) DPW PSI Papua Tengah, Kamis (7/5/2026), ada satu sosok sederhana yang diam-diam mencuri perhatian.

Namanya Mama Emi. Perempuan paruh baya itu datang tanpa atribut partai, tanpa pengawalan, dan tanpa kursi kehormatan. Di tangannya hanya ada sebuah box plastik berisi air mineral, jagung rebus, kacang rebus, dan keripik sukun yang ia jajakan kepada peserta kegiatan.

Di sela-sela kesibukannya melayani pembeli, Mama Emi sesekali masuk ke dalam auditorium. Ia ikut bernyanyi, bertepuk tangan, dan memberikan semangat kepada peserta Rakorwil serta pengurus DPW dan DPD PSI Papua Tengah yang baru dilantik.

Bagi Mama Emi, hari itu bukan sekadar momentum politik. Itu juga kesempatan mencari rezeki. “Saya harus berjuang dengan berjualan seperti ini untuk memenuhi kebutuhan hidup sendiri dan anak,” ujarnya dengan nada tegar.

Wajahnya tampak lelah, tetapi semangatnya tidak surut. Perempuan yang dahulu dikenal dengan julukan “Gadis Monginsidi” itu mengaku sudah terbiasa bekerja keras demi bertahan hidup. Beberapa bulan lalu, rumahnya di Jalan Wolter Monginsidi dilalap api.

Musibah itu memaksanya memulai kembali hidup dari nol. Di tengah perjuangan tersebut, ia juga harus menerima kenyataan pahit ditinggalkan sang suami. Namun keadaan tidak membuat Mama Emi menyerah.

“Setiap ada momen, saya pasti ada dengan berjualan. Saya ingin membangun rumah,” katanya penuh harap. Di tengah hiruk-pikuk agenda politik nasional yang menghadirkan tokoh besar, Mama Emi menjadi gambaran nyata perempuan Papua yang bertahan dengan kekuatan sendiri. Ia hadir bukan untuk mencari sorotan, melainkan memperjuangkan kehidupan.

Sementara itu, Kaesang Pangarep tiba di Nabire melalui Bandara Douw Aturure sekitar pukul 15.25 WIT setelah melakukan kunjungan kerja ke sejumlah provinsi di Tanah Papua, yakni Papua, Papua Barat, dan Papua Barat Daya.

Selain membuka Rakorwil, putra Presiden RI ke-7Joko Widodo itu juga melantik pengurus DPW PSI Papua Tengah dan DPD PSI dari delapan kabupaten, yakni Nabire, Paniai, Deiyai, Dogiyai, Mimika, Puncak, Intan Jaya, dan Puncak Jaya.

Kepengurusan DPW PSI Papua Tengah dipimpin Isaias Douw sebagai ketua, didampingi Jemi Patabang sebagai sekretaris dan Maria Ina Erari sebagai bendahara.

Dalam pidato politiknya, Kaesang meminta seluruh kader PSI Papua Tengah untuk solid mendukung kepemimpinan Isaias Douw menuju Pemilu Legislatif 2029. “Kita dukung Pak Douw untuk memenangkan Pemilu Legislatif 2029. Anda yang hadir sampaikan kepada keluarga dan masyarakat tentang PSI,” kata Kaesang.

Ia juga mengingatkan kader PSI agar hadir di tengah masyarakat dan peduli terhadap warga yang mengalami kesulitan. “Bantu warga sekitar anda, jangan acuh. Bawa nama PSI di masyarakat. Meskipun saya bukan siapa-siapa di birokrasi tetapi saya ada akses, akses inilah yang akan saya pergunakan untuk membesarkan PSI,” tutupnya.

Di luar pidato dan panggung politik itu, sosok Mama Emi menjadi potret kecil tentang perjuangan rakyat sederhana di Papua Tengah. Di tangan yang menjajakan jagung rebus dan keripik sukun itu, tersimpan mimpi besar untuk kembali memiliki rumah dan kehidupan yang lebih baik. (red-paputeng)

Harga Beras di Intan Jaya Melonjak, Pemprov Papua Tengah Gerak Cepat Libatkan TPID dan OPD Strategis 

Papua Tengah – PAPUTENG.COM – Pemerintah Provinsi Papua Tengah bergerak cepat merespons lonjakan harga bahan pokok, khususnya beras di wilayah pegunungan Kabupaten Intan Jaya yang tercatat naik hingga 9,33 persen. Selain beras, sejumlah komoditas pangan lain seperti telur, daging ayam, dan minyak goreng juga mengalami kenaikan di atas rata-rata harga nasional.

Menyikapi kondisi tersebut, Pemprov Papua Tengah menggelar rapat koordinasi pengendalian inflasi di Ruang Rapat Wakil Gubernur dengan melibatkan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID), Badan Pusat Statistik (BPS), serta sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD) strategis.

Rapat dipimpin Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda Papua Tengah, Tumiran, yang menegaskan bahwa lonjakan harga di Intan Jaya dipicu oleh sejumlah faktor utama, terutama tantangan geografis wilayah pegunungan yang sulit dijangkau.

“Faktor utama penyebab harga beras di Intan Jaya yakni kondisi geografis yang sulit diakses, tingginya biaya transportasi, serta ketergantungan pasokan dari luar daerah,” ujar Tumiran.

Sebagai langkah cepat, Pemprov Papua Tengah menyiapkan enam strategi konkret sesuai arahan Kementerian Dalam Negeri RI untuk menekan laju inflasi daerah. Langkah tersebut meliputi operasi pasar, inspeksi mendadak (sidak) ke distributor, Gerakan Pangan Murah (GPM), subsidi transportasi atau ongkos kirim, serta pengawasan ketat terhadap potensi penimbunan bahan pokok.

Menurut Tumiran, karakteristik inflasi di Papua Tengah berbeda dengan daerah lain sehingga membutuhkan pola penanganan yang lebih spesifik dan berbasis kondisi lapangan. “Intervensi harus spesifik wilayah, cepat, dan berbasis data karena Papua Tengah memiliki karakter inflasi yang khas,” tegasnya.

Selain penanganan jangka pendek, Pemprov juga menyiapkan empat strategi jangka panjang guna mengantisipasi lonjakan harga yang dapat terjadi sewaktu-waktu. Strategi tersebut mencakup peningkatan produksi pangan lokal, penguatan peran TPID di setiap kabupaten, perluasan Gerakan Pangan Murah dan gerakan menanam, serta pembangunan sistem data harga berbasis real time.

Pemerintah berharap langkah terpadu tersebut tidak hanya menstabilkan harga kebutuhan pokok, tetapi juga menjaga daya beli masyarakat serta memperkuat stabilitas sosial dan ekonomi di seluruh wilayah Papua Tengah, khususnya daerah pegunungan yang rentan terhadap gejolak distribusi pangan.