Dialog Nonformal ala Gubernur Meki Nawipa, Bahas Pendidikan hingga Persoalan Sosial di Papua Tengah

Gubernur Papua Tengah pimpin dialog non formal bersama pimpinan Gereja se-Papua, Senin (14/9/26)

NABIRE – Gubernur Provinsi Papua Tengah Meki Fritz Nawipa bersama didampingi Penjabat Sekretaris Daerah Silwanus Soemoele menggelar dialog bersama pimpinan lembaga gereja se-Tanah Papua di Ballroom Kantor Gubernur Papua Tengah, Senin (14/9/2026).

Dialog tersebut dikemas dalam suasana nonformal, santai, penuh keakraban dan kekeluargaan. Pertemuan berlangsung sambil menikmati hidangan kopi dan menjadi ruang bagi para pimpinan lembaga gereja untuk menyampaikan berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.

Sejumlah isu mengemuka dalam dialog tersebut, mulai dari persoalan keagamaan, pendidikan, sosial kemasyarakatan, keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas), data kependudukan, hingga persoalan tapal batas Kapiraya.

Selain itu, turut dibahas persoalan pelayanan jaminan sosial, termasuk bantuan BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan serta pembukaan rekening kasih bagi para pelayan gereja.

Gubernur Meki Nawipa mengatakan, sebagai provinsi yang relatif masih muda, Papua Tengah masih menghadapi banyak pekerjaan rumah yang perlu dibenahi. Karena itu, pemerintah daerah perlu menanamkan berbagai fondasi dasar yang kuat sebagai pijakan pembangunan berkelanjutan.

Menurut Meki, keberhasilan pembangunan tidak semata-mata dapat diukur dari pembangunan fasilitas fisik dan infrastruktur. Pembangunan juga harus berjalan beriringan dengan pembangunan mental dan spiritual masyarakat.

“Posisi strategis gereja sebagai pendidik mental spiritual diharapkan dapat berkolaborasi secara kontinyu dan konsisten,” ujar Meki Nawipa.

Dalam dialog tersebut, seorang agamawati turut menyoroti peran historis gereja dalam perkembangan pendidikan di Tanah Papua.

“Apabila melihat sejarah, salah satu misi keberadaan gereja adalah sebagai pencetus kebangkitan pendidikan modern di Papua,” jelasnya.

Ia menjelaskan, kebangkitan pendidikan modern di Papua telah berlangsung sejak sekitar tahun 1920. Pada masa itu, para penginjil juga berperan sebagai guru di sekolah-sekolah.

Menurutnya, para guru pada masa tersebut banyak menghabiskan waktu selama sepekan di luar gereja untuk menjalankan tugas pendidikan. Karena itu, ia berharap guru-guru yang mengajarkan pendidikan Kristen di sekolah dapat kembali mendapatkan penguatan peran dari gereja.

Sementara itu, utusan dari Kabupaten Mimika mengungkapkan masih ditemukan anak-anak lulusan sekolah dasar yang belum mampu membaca dan menulis dengan baik.

Menanggapi persoalan tersebut, Meki Nawipa mengatakan Pemerintah Provinsi Papua Tengah telah mulai merintis sistem pendidikan berasrama atau boarding school.

Ia berharap keberadaan sekolah tersebut dapat menjadi salah satu solusi untuk meningkatkan kualitas pendidikan anak-anak di Papua Tengah.

“Diharapkan para lulusan dari sekolah ini mahir, terampil dan cerdas sekaligus memiliki karakter yang kuat,” kata Meki.

Dialog bersama pimpinan lembaga gereja tersebut diharapkan menjadi momentum memperkuat sinergi antara pemerintah dan gereja dalam menjawab berbagai persoalan masyarakat, khususnya di bidang pendidikan, pembangunan karakter, pelayanan sosial, serta kehidupan keagamaan di Papua Tengah.

Namun gubernur menegaskan, bahwa dialog perdana ini merupakan dialog rintisan yang memerlukan tindakan lebih lanjut. Ia mengagendakan pertemuan ini akan terus di lakukan guna pematangan yang akan digelar setiap tiga bulan.(red-paputeng.com)

Jadikan Postingan ini Sebagai Diskusi