Menziarahi Jejak Leluhur Manusia dan Ketaatan Mutlak dalam Ibadah Haji

Essai : Abdul Munib

Sebelumnya essai ini pernah di muat di papupos online*

Dalam ibadah haji terdapat jejak langkah menziarahi napak tilas leluhur manusia. Ada Jabal Rahmat. Ada Maqom Ibrohim. Ada Hijir Ismail. Ada tempat Lempar Jumrah. Ada napak tilas Sayidah Hajar ketika mencari air saat bayinya kehausan. Yang diabadikan dalam ritual sha”i dari Shafa ke Marwah. Jalan ke belakang itu agar manusia merenungkan asal usulnya.

Ibadah haji yang oleh ulama dimasukan dalam rukun Islam (pokok Islam) ke lima, -setelah shyahadat, sholat, zakat dan puasa Ramadhan, merupakah ibadah yang lengkap. Yakni selain waktu ada juga soal ruang, yakni ruang sejarah yang ada sejak Jabal Rahmat tempat perjumpaan Bapa Adam ibu Hawa. Di sebelah barat Makkah, tepatnya di Kita Jedah terdapat makam Sayidah Hawa, ibu seluruh manusia.

Kewajiban dalam haji itu konteks wajibnya tak sama dengan ibadah yang lain. Melainkan baru diwajibkan jika mampu untuk biaya diperjalanan dan keluarga nyang ditinggal. Jika belum mampu tidak diwajibkan berhaji.

Al-quran menetapkan ketentuan haji dalam ayat ini : Di sana terdapat tanda-tanda yang jelas, (di antaranya) Maqam Ibrahim. Barang siapa memasukinya (Baitullah), maka dia aman. Dan (di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, yaitu bagi orang-orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana. Barang siapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu pun) dari seluruh alam. Surat Ali Imran ayat 97.

Ketentuan dalam ayat lain : Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh. Surat Al Hajj ayat 27.

Napak tilas dalam ibadah haji didalamnya mengajak kita untuk menziarahi masa lalu leluhur manusia. Bagaimana nabi Ibrahim (Abraham) membangun kembali Ka’bah yang sudah tertimbun lama oleh perubahan geografi. Tapi sebagai titik pertama sejarah penghambaan kepada Tuhan tempat itu diabadikan dalam kisah dalam Alquran.. Sebelumnya Ka’bah adalah bangunan pertama yang didirikan bagi manusia untuk menyembah Tuhan.

Begini ayatnya : Sesungguhnya rumah (ibadah) pertama yang dibangun untuk manusia adalah (Baitullah) yang (berada) di Bakkah (Makkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi seluruh alam. Surat Ali Imran ayat 96

Nabi Ibrahim, isterinya sayidah Hajar dan putranya Ismail diutus Tuhan untuk mendiami sebuah lembah gersang yang rerumputan pun tak ada. Nabi Ibrahim berdoa agar tempat itu berkah untuk keturunannya.

Begini do’anya yang terabadikan dalam Alquran. Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak ada tanamannya (dan berada) di sisi rumah-Mu (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami, (demikian itu kami lakukan) agar mereka melaksanakan salat. Maka, jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan anugerahilah mereka rezeki dari buah-buahan. Mudah-mudahan mereka bersyukur. Surat Ibrahim ayat 36.

Setelah ibadah haji disusul memotong hewan kurban. Begini kisah dramatis ketika Ibrahim diperintah Allah untuk menyembelih putra kesayangannya Ismail. Kalau di Kristen yang mau disembelih putranya bernama Isak. Tapi menurut Gus Dur hal itu tidak perlu dipertentangkan, toh dalam kisah itu sama-sama tidak jadi disembelih. Karena digantikan seekor domba.

Yang perlu kita ambil adalah hikmat dari kisah itu. Nabi Ibrahim punya ketaatan total pada Tuhannya. Nabi Ismail memiliki ketaatan total kepada orang tuanya untuk hal kebaikan.

Ini kisah mereka yang diabadikan dalam Al Quran. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: ‘Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!’. Ia (Ismail) menjawab: ‘Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu! Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang sabar. Surat As-saffat ayat 102.

Semua peribadatan manusia tak dapat diukur dari bentuk fisiknya. Melainkan ukurannya ada pada keikhlasannya dan ketakwaannya.. Dikatakan Allah dalam firmannya:

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Surat Al Hajj ayat 37.

Di jaman ketika manusia sibuk dengan urusan dirinya sendiri mengejar harta. Berlomba-lomba saling menumpuk jumlahnya yang banyak sepanjang hidupnya. Yang terus mengumpulkan kekayaan dan terus menghitungnya. Padahal tak seharusnya menjadi seperti itu. Nafsu lawamah manusia telah banyak membuat jiwa-jiwa terdampar disana karena lupa Sangkan Paraning Sumadi.

Hikmat ibadah haji mengajak manusia untuk napak tilas. Memaknai jalan setapak kemanusiaannya. Lebih menyelam kedalam hakikatnya perjalanan nya dalam ketaatan mutlak. Agar segala upayanya berakhir dalam Mendapat Keridhaan Tuhan yang maha Esa.***

Jadikan Postingan ini Sebagai Diskusi