Denzipur 12/OHH Gelar Sholat Idul Adha dan Pemotongan Hewan Kurban

Nabire – PAPUTENG.COM – Suasana penuh khidmat dan kebersamaan mewarnai pelaksanaan Sholat Idul Adha 1447 Hijriah di Markas Detasemen Zeni Tempur 12/Ohara (Denzipur 12/OHH), Rabu (27/5/2026).

Sejak pagi hari, halaman markas dipenuhi anggota TNI, keluarga besar Denzipur 12/OHH, Persit, serta masyarakat sekitar yang hadir untuk mengikuti Sholat Ied sekaligus menyaksikan prosesi penyembelihan hewan kurban.

Masjid Al Hijrah yang berada di lingkungan markas menjadi pusat pelaksanaan ibadah. Warna-warni mukena ibu-ibu Persit, suara anak-anak, serta jamaah yang mengenakan sarung dan kopiah menambah hangat suasana perayaan Hari Raya Idul Adha.

Dalam pelaksanaan Sholat Idul Adha tersebut, Ustadz Suryono Alfarisi dipercaya sebagai khotib sekaligus imam. Dalam khutbahnya, ia menegaskan bahwa Idul Adha bukan sekadar ibadah tahunan, melainkan momentum penting untuk meneladani nilai keimanan, keikhlasan, dan pengorbanan Nabi Ibrahim AS.

“Idul Adha merupakan momentum penting guna meneladani keimanan, keikhlasan, dan pengorbanan Sayyidina Ibrahim AS dalam menjalankan perintah Allah SWT,” ujar Ustadz Suryono.

Ia menjelaskan, kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS mengandung pelajaran besar tentang arti keikhlasan dan ketaatan kepada Allah SWT. Menurutnya, Nabi Ibrahim menunjukkan kepatuhan luar biasa ketika menerima perintah untuk menyembelih putranya tanpa sedikit pun keraguan.

“Sikap tersebut menjadi teladan bagi umat Islam agar senantiasa mengutamakan perintah Allah di atas kepentingan pribadi,” katanya.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa esensi utama ibadah terletak pada keikhlasan dalam menjalankannya.

“Segala sesuatu yang dilakukan atas dasar keikhlasan dan mencari ridha-Nya akan bernilai ibadah yang membawa keberkahan dalam kehidupan,” tambahnya.

Usai pelaksanaan Sholat Ied, kegiatan dilanjutkan dengan penyembelihan hewan kurban berupa dua ekor sapi dan satu ekor kambing di halaman Masjid Al Hijrah.

Prosesi pemotongan hewan kurban dilakukan secara gotong royong oleh panitia kurban bersama para prajurit Denzipur 12/OHH. Suasana penuh kebersamaan dan rasa syukur tampak menyelimuti seluruh rangkaian kegiatan.

Daging kurban kemudian didistribusikan kepada keluarga besar Denzipur 12/OHH, masyarakat sekitar, serta yayasan yatim piatu sebagai bentuk kepedulian sosial dan rasa syukur di Hari Raya Idul Adha.

Melalui momentum tersebut, seluruh personel Denzipur 12/OHH diharapkan dapat semakin mempererat tali silaturahmi, meningkatkan kepedulian sosial, serta menumbuhkan semangat pengabdian dan keikhlasan dalam menjalankan tugas kepada bangsa dan negara. (red-paputeng)

Menziarahi Jejak Leluhur Manusia dan Ketaatan Mutlak dalam Ibadah Haji

Essai : Abdul Munib

Sebelumnya essai ini pernah di muat di papupos online*

Dalam ibadah haji terdapat jejak langkah menziarahi napak tilas leluhur manusia. Ada Jabal Rahmat. Ada Maqom Ibrohim. Ada Hijir Ismail. Ada tempat Lempar Jumrah. Ada napak tilas Sayidah Hajar ketika mencari air saat bayinya kehausan. Yang diabadikan dalam ritual sha”i dari Shafa ke Marwah. Jalan ke belakang itu agar manusia merenungkan asal usulnya.

Ibadah haji yang oleh ulama dimasukan dalam rukun Islam (pokok Islam) ke lima, -setelah shyahadat, sholat, zakat dan puasa Ramadhan, merupakah ibadah yang lengkap. Yakni selain waktu ada juga soal ruang, yakni ruang sejarah yang ada sejak Jabal Rahmat tempat perjumpaan Bapa Adam ibu Hawa. Di sebelah barat Makkah, tepatnya di Kita Jedah terdapat makam Sayidah Hawa, ibu seluruh manusia.

Kewajiban dalam haji itu konteks wajibnya tak sama dengan ibadah yang lain. Melainkan baru diwajibkan jika mampu untuk biaya diperjalanan dan keluarga nyang ditinggal. Jika belum mampu tidak diwajibkan berhaji.

Al-quran menetapkan ketentuan haji dalam ayat ini : Di sana terdapat tanda-tanda yang jelas, (di antaranya) Maqam Ibrahim. Barang siapa memasukinya (Baitullah), maka dia aman. Dan (di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, yaitu bagi orang-orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana. Barang siapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu pun) dari seluruh alam. Surat Ali Imran ayat 97.

Ketentuan dalam ayat lain : Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh. Surat Al Hajj ayat 27.

Napak tilas dalam ibadah haji didalamnya mengajak kita untuk menziarahi masa lalu leluhur manusia. Bagaimana nabi Ibrahim (Abraham) membangun kembali Ka’bah yang sudah tertimbun lama oleh perubahan geografi. Tapi sebagai titik pertama sejarah penghambaan kepada Tuhan tempat itu diabadikan dalam kisah dalam Alquran.. Sebelumnya Ka’bah adalah bangunan pertama yang didirikan bagi manusia untuk menyembah Tuhan.

Begini ayatnya : Sesungguhnya rumah (ibadah) pertama yang dibangun untuk manusia adalah (Baitullah) yang (berada) di Bakkah (Makkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi seluruh alam. Surat Ali Imran ayat 96

Nabi Ibrahim, isterinya sayidah Hajar dan putranya Ismail diutus Tuhan untuk mendiami sebuah lembah gersang yang rerumputan pun tak ada. Nabi Ibrahim berdoa agar tempat itu berkah untuk keturunannya.

Begini do’anya yang terabadikan dalam Alquran. Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak ada tanamannya (dan berada) di sisi rumah-Mu (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami, (demikian itu kami lakukan) agar mereka melaksanakan salat. Maka, jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan anugerahilah mereka rezeki dari buah-buahan. Mudah-mudahan mereka bersyukur. Surat Ibrahim ayat 36.

Setelah ibadah haji disusul memotong hewan kurban. Begini kisah dramatis ketika Ibrahim diperintah Allah untuk menyembelih putra kesayangannya Ismail. Kalau di Kristen yang mau disembelih putranya bernama Isak. Tapi menurut Gus Dur hal itu tidak perlu dipertentangkan, toh dalam kisah itu sama-sama tidak jadi disembelih. Karena digantikan seekor domba.

Yang perlu kita ambil adalah hikmat dari kisah itu. Nabi Ibrahim punya ketaatan total pada Tuhannya. Nabi Ismail memiliki ketaatan total kepada orang tuanya untuk hal kebaikan.

Ini kisah mereka yang diabadikan dalam Al Quran. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: ‘Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!’. Ia (Ismail) menjawab: ‘Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu! Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang sabar. Surat As-saffat ayat 102.

Semua peribadatan manusia tak dapat diukur dari bentuk fisiknya. Melainkan ukurannya ada pada keikhlasannya dan ketakwaannya.. Dikatakan Allah dalam firmannya:

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Surat Al Hajj ayat 37.

Di jaman ketika manusia sibuk dengan urusan dirinya sendiri mengejar harta. Berlomba-lomba saling menumpuk jumlahnya yang banyak sepanjang hidupnya. Yang terus mengumpulkan kekayaan dan terus menghitungnya. Padahal tak seharusnya menjadi seperti itu. Nafsu lawamah manusia telah banyak membuat jiwa-jiwa terdampar disana karena lupa Sangkan Paraning Sumadi.

Hikmat ibadah haji mengajak manusia untuk napak tilas. Memaknai jalan setapak kemanusiaannya. Lebih menyelam kedalam hakikatnya perjalanan nya dalam ketaatan mutlak. Agar segala upayanya berakhir dalam Mendapat Keridhaan Tuhan yang maha Esa.***

Satria Sunda Sakti Papua Tengah Tanamkan Nilai Kebersamaan dan Kepedulian Sosial Melalui Kurban

Papua Tengah – PAPUTENG.COM – Paguyuban Satria Sunda Sakti (S3) Provinsi Papua Tengah melaksanakan penyembelihan hewan kurban sebanyak tiga ekor sapi dalam rangka perayaan Hari Raya Idul Adha 10 Dzulhijjah 1447 Hijriah yang bertepatan dengan 27 Mei 2026.

Tiga ekor sapi kurban yang seluruhnya berasal dari anggota aktif S3 tersebut dipotong di Sekretariat S3 Papua Tengah, Jalan Kasuari, Kelurahan Siriwini, Distrik Nabire.

Kegiatan ini melibatkan pengurus, anggota, serta masyarakat sekitar sebagai bentuk mempererat kebersamaan dan kepedulian sosial.

Ketua DPW Satria Sunda Sakti Papua Tengah, H. Doris Atang Suryana mengatakan, ibadah kurban tidak hanya menjadi bentuk ketaatan kepada Allah SWT, tetapi juga menjadi sarana menanamkan nilai keikhlasan, semangat berbagi, dan kepedulian terhadap sesama.

Menurutnya, kegiatan kurban yang dilaksanakan warga Pasundan yang berdomisili di Nabire itu sekaligus menjadi momentum memperkuat tali silaturahmi, kekompakan, dan rasa kebersamaan antaranggota paguyuban.

“Dengan berkurban tidak hanya menanamkan nilai ibadah yang dianjurkan agama, tetapi juga menanamkan keikhlasan, berbagi, dan kepedulian sosial terhadap sesama, terutama masyarakat yang berada di sekitar sekretariat,” ujar Doris.

Pria yang akrab disapa Ua Haji itu juga menyampaikan rasa syukur atas kelancaran seluruh rangkaian kegiatan kurban yang dapat terlaksana sesuai rencana.

Ia turut mengapresiasi dukungan panitia, ibu-ibu Srikandi, serta seluruh anggota S3 yang telah memberikan dukungan moril maupun materil sejak tahap perencanaan hingga pelaksanaan pemotongan dan distribusi daging kurban.

“Saya mengucapkan terima kasih kepada panitia, ibu-ibu Srikandi, dan seluruh anggota yang telah dengan sepenuh hati mendukung kegiatan ini mulai dari pembentukan panitia, perencanaan, hingga proses pemotongan dan distribusi sehingga berjalan dengan baik,” tambahnya.

Dalam pelaksanaannya, proses pemotongan, pencacahan daging, hingga distribusi hewan kurban mendapat pendampingan dari petugas Ante Mortem dan Post Mortem (AMPM) Dinas Peternakan dan Perkebunan Kabupaten Nabire guna memastikan hewan kurban dalam kondisi sehat dan layak konsumsi.

Hingga berita ini diturunkan, panitia masih terus melakukan distribusi daging kurban kepada para penerima manfaat yang sebelumnya telah didata oleh panitia kurban.

Menutup kegiatan tersebut, Pengurus DPW Satria Sunda Sakti Papua Tengah turut menyampaikan ucapan selamat Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah/2026 Masehi kepada seluruh umat Muslim.

“Selamat Hari Raya Idul Adha 1447 H/2026 M. Taqabbalallahu minna wa minkum, taqabbal ya karim,” tutupnya. (red-paputeng)