Kadis Pendidikan Nabire: Maulid Nabi Jadi Ruang Kreativitas Anak Usia Dini

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Nabire Dina Pidjer mewakili Pemerintah Nabire memberikan arahan pada Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di TK Yapis Kota Lama Nabire, Sabtu (5/9/26)

NABIRE – Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di TK Bustanul Athfal Yapis Morgo, Kota Lama, Kabupaten Nabire, menjadi momentum bagi anak-anak usia dini untuk belajar sekaligus mengekspresikan kreativitas.

Kegiatan yang digelar pada Sabtu (5/9/2021) tersebut mengusung tema “Aku Cinta Nabi Muhammad SAW: Ceria, Jujur, dan Suka Berbagi.”

Sejumlah murid TK Bustanul Athfal Yapis turut ambil bagian dalam kegiatan dengan menampilkan nyanyian serta menyampaikan silsilah Nabi Muhammad SAW. Acara kemudian dilanjutkan dengan ceramah agama yang disampaikan Ustaz Abdul Wahab Almahmudi.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Nabire, Dina Pidjer, yang hadir mewakili Pemerintah Kabupaten Nabire, mengatakan kegiatan keagamaan seperti peringatan Maulid Nabi memiliki arti penting bagi pendidikan karakter anak usia dini.

Menurut Dina, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi seremonial keagamaan, tetapi juga memberikan ruang kepada anak-anak untuk tampil di depan umum, berkreasi, sekaligus meningkatkan kepercayaan diri.

“Kegiatan seremonial ini sangat penting artinya karena melibatkan anak-anak untuk tampil, berkreasi, dan meningkatkan kreativitas anak-anak,” kata Dina.

Dalam kesempatan tersebut, Dina juga menyampaikan apresiasi kepada Yapis Nabire yang selama ini turut berkontribusi dalam memberikan pelayanan pendidikan serta meningkatkan mutu pendidikan di Kabupaten Nabire.

Ia mengatakan, pemerintah daerah terus memberikan perhatian kepada yayasan-yayasan pendidikan yang ikut membantu penyelenggaraan pendidikan, antara lain melalui dukungan sarana dan prasarana, penyediaan tenaga pendidik, serta pemberian honor bagi guru.

“Sebagai bentuk perhatian pemerintah terhadap yayasan pendidikan, pemerintah memberikan bantuan baik berupa sarpras, penyediaan guru-guru yang layak, maupun pemberian honor yang pantas. Namun, honor ini belum bisa diberikan secara merata karena keterbatasan keuangan daerah,” jelasnya.

Dina juga berpesan kepada para guru, khususnya guru honorer, agar tetap bekerja dan berkarya dengan penuh tanggung jawab serta keikhlasan.

Ia meyakini pengabdian yang dilakukan dengan baik dan tulus pada waktunya akan memberikan hasil.

“Teruslah bekerja dan berkarya dengan baik dan dengan hati yang ikhlas. Suatu hari nanti, karya yang baik dan pengabdian yang ikhlas akan membuahkan hasil,” pesannya.

Yapis Terbuka untuk Semua Agama

Sementara itu, Kepala TK Bustanul Athfal Yapis Nabire, Insiroh Retno Widyawati, mengatakan sebagian besar tenaga pendidik di sekolahnya merupakan guru-guru muda. Bahkan, beberapa di antaranya masih menempuh pendidikan strata satu.

“Sebagian besar guru di kami merupakan guru muda yang telah mengabdikan diri di dunia pendidikan. Bahkan ada yang masih berstatus mahasiswi,” ujar Insiroh.

Ia menambahkan, meskipun Yapis Nabire dikenal sebagai lembaga pendidikan yang berlatar belakang Islam, sekolah tersebut memiliki sejarah panjang dalam memberikan layanan pendidikan kepada masyarakat dari berbagai latar belakang agama.

Menurut Insiroh, hal itu terlihat dari banyaknya lulusan Yapis yang berasal dari kalangan non-Islam.

“Yapis memang berlabel sekolah pendidikan Islam, tetapi dalam catatan sejarah, Yapis memiliki banyak sekali lulusan non-Islam. Artinya, Yapis terbuka untuk semua agama,” pungkasnya.(redaksi-paputeng.com)

Jadikan Postingan ini Sebagai Diskusi