
Nabire, PAPUTENG.COM – Perkembangan digitalisasi yang masif telah mengubah wajah dunia jurnalistik secara signifikan. Jika sebelumnya media konvensional menjadi rujukan utama publik, kini peran tersebut bergeser ke platform digital yang serba cepat dan berbasis algoritma. Dalam lanskap baru ini, elektabilitas sebuah karya jurnalistik tidak lagi sepenuhnya ditentukan oleh kualitas konten, melainkan oleh performa algoritma—seperti jumlah klik, tayangan, dan interaksi.
Kondisi ini dinilai mendorong perubahan paradigma kerja jurnalis dari yang idealis menjadi lebih asimetris dan pragmatis. Seorang wartawan senior Papua, Abdul Munib, menyoroti fenomena tersebut saat memimpin rapat redaksi Papuapos Nabire, Jumat (24/4/2026).
Ia menyebut bahwa propaganda digitalisasi yang digadang-gadang sebagai puncak kemajuan teknologi justru membawa dampak destruktif terhadap tatanan jurnalistik yang telah lama terbangun. “Propaganda era digital yang dihembuskan sebagai bentuk kemudahan itu omong kosong. Nyatanya, justru menjadi penghancur sistem yang selama ini berjalan,” tegasnya.

Menurutnya, perubahan sistem ekonomi global yang kini beralih ke transaksi digital, termasuk penggunaan QRIS, juga menyimpan potensi kerawanan. Ia menilai, tidak sedikit oknum yang menyalahgunakan teknologi tersebut untuk tindakan penipuan.
Di sisi lain, industri media konvensional seperti surat kabar telah banyak yang gulung tikar. Peralihan ke media online memang membuka akses informasi yang lebih luas dan murah, namun sekaligus menghadirkan kompetisi yang semakin ketat. “Sekarang bukan soal siapa yang paling hebat, tetapi siapa yang mampu bertahan lebih lama. Kunci eksistensi wartawan saat ini ada pada relasi—relasi, dan relasi,” ujarnya.
Fenomena ini turut memengaruhi kesejahteraan jurnalis. Banyak wartawan yang bekerja dengan risiko tinggi harus menerima kenyataan bahwa karya mereka hanya dibaca oleh segelintir orang, tanpa nilai ekonomi yang memadai.
Kendati demikian, Papuapos Nabire yang kini memasuki usia ke-22 tahun atau mendekati usia perak, masih mampu bertahan dan terus memberikan pelayanan informasi kepada masyarakat di delapan kabupaten di Provinsi Papua Tengah.
Abdul Munib menambahkan, jurnalis masa kini dituntut memiliki kemampuan multidimensi. Tidak hanya sebagai pencari berita, tetapi juga sebagai entrepreneur yang mampu membangun jejaring luas dan adaptif terhadap perubahan zaman. “Jurnalis sekarang harus asimetris—punya visi, punya relasi, dan mampu berdiri di banyak kaki,” pungkasnya.

