Markus Makai Apresiasi Kapolda Papua Tengah dan Kapolres Nabire atas Penanganan Aksi Demonstrasi

NABIRE — Anggota DPRK Nabire, Markus Makai, S.Hut., mengapresiasi kinerjKapolda Papua Tengah dan Kapolres Nabire beserta jajaran dalam menangani sejumlah aksi demonstrasi yang berlangsung di Kabupaten Nabire dalam beberapa bulan terakhir.

Markus menilai penanganan massa aksi yang dilakukan aparat kepolisian berjalan cukup baik, khususnya dalam menjaga keamanan dan ketertiban sekaligus memberikan ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan aspirasi secara damai.

“Saya memberikan apresiasi kepada Kapolda Papua Tengah dan Kapolres Nabire beserta jajaran. Dalam beberapa bulan terakhir, penanganan massa aksi cukup baik. Kami berharap pendekatan yang mengedepankan komunikasi dan persuasif terus dipertahankan,” ujar Markus Makai kepada wartawan, Sabtu (15/8/26).

Menurut Markus, demonstrasi merupakan bagian dari kehidupan demokrasi. Masyarakat memiliki hak untuk menyampaikan pendapat, aspirasi, maupun kritik terhadap pemerintah dan kebijakan publik.

Ia menegaskan, kebebasan menyampaikan pendapat merupakan hak konstitusional yang dijamin dalam UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 28E ayat (3). Selain itu, penyampaian pendapat di muka umum juga diatur melalui Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1998 tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum.

“Masyarakat mempunyai hak untuk menyampaikan aspirasi. Namun, dalam menyampaikan pendapat, kita juga harus menghormati aturan dan menjaga ketertiban umum. Begitu pula aparat harus terus mengedepankan pendekatan yang humanis dan menghormati hak warga negara,” katanya.

Markus berharap sinergi antara kepolisian, pemerintah daerah, DPRK, tokoh masyarakat, tokoh agama, pemuda, serta seluruh elemen masyarakat dapat terus diperkuat. Menurutnya, komunikasi dan koordinasi yang baik menjadi salah satu kunci untuk mencegah kesalahpahaman sekaligus menjaga situasi keamanan dan ketertiban di Kabupaten Nabire dan Provinsi Papua Tengah.

Ia juga mengimbau masyarakat agar menyampaikan aspirasi secara damai serta tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum terverifikasi kebenarannya.

“Kita boleh berbeda pendapat, tetapi jangan sampai perbedaan itu merusak persaudaraan. Mari kita sama-sama menjaga Nabire dan Papua Tengah tetap aman, damai, dan kondusif. Aspirasi masyarakat harus didengar, sementara keamanan bersama juga harus kita jaga,” pungkas Markus Makai.(red-paputeng)

HUT ke-22 SMAN 2 Nabire: Dari Jalan Berlumpur Menuju Pendidikan Modern

NABIRE, PAPUTENG.COM — Hari Ulang Tahun (HUT) ke-22 SMAN 2 Nabire diperingati meriah pada Sabtu (15/8/2026). Perayaan yang mengusung semangat syukur dan refleksi perjalanan sekolah itu diwarnai jalan santai serta pembagian puluhan door prize, mulai dari hadiah hiburan, kipas angin, mesin cuci hingga langganan pulsa data gratis selama satu tahun.

Kegiatan diawali dengan jalan santai yang diikuti siswa kelas X hingga XII, dewan guru, staf dan karyawan sekolah, serta sejumlah alumni dari beberapa angkatan pendukung kegiatan.

Kepala SMAN 2 Nabire, Suriati Mangallo, mengatakan sekolah tersebut berdiri pada 15 Agustus 2004 dengan nama SMAN 3 Nabire. Setelah melalui perjalanan panjang, nama sekolah kemudian resmi berubah menjadi SMAN 2 Nabire berdasarkan Surat Keputusan Bupati Nabire Nomor 100.3.2-81 yang ditetapkan pada 29 Januari 2026.

“Puji syukur kita ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa dan menatap masa depan lebih baik. SMAN 2 atau Smanda kokoh berdiri dengan banyak kemajuan yang telah dicapai, baik dari segi gedung sekolah maupun jumlah siswa yang bersekolah di sini,” ujar Suriati dalam sambutannya.

Menurutnya, peringatan HUT bukan sekadar kegiatan seremonial atau penanda bertambahnya usia sekolah. Momentum tersebut menjadi kesempatan untuk melihat kembali perjalanan panjang yang telah dilalui, mensyukuri berbagai capaian, sekaligus menatap masa depan dengan target yang lebih besar.

Dari Tiga Ruang Kelas dan Jalan Berlumpur

Dalam perjalanan 22 tahun, SMAN 2 Nabire telah melewati berbagai fase dan tantangan. Saat pertama kali berdiri sebagai SMAN 3 Nabire pada 2004, kondisi sekolah masih jauh dari memadai.

Saat itu, sekolah hanya memiliki tiga ruang kelas dengan 65 siswa dan delapan orang guru. Keterbatasan fasilitas tidak menyurutkan semangat para perintis pendidikan untuk terus menjalankan proses belajar mengajar.

Salah satu kenangan yang masih membekas adalah kondisi akses menuju sekolah. Jalan yang berlubang dan berlumpur menjadi tantangan tersendiri bagi para guru maupun siswa.

Tidak jarang, para guru harus mengenakan sepatu bot untuk dapat mencapai sekolah dan menjalankan tugasnya.

Namun, keterbatasan tersebut justru menjadi bagian penting dari sejarah perjuangan SMAN 2 Nabire. Dengan dukungan masyarakat melalui swadaya, peran alumni angkatan pertama, serta bantuan pemerintah, akses menuju sekolah secara bertahap mulai diperbaiki.

Semangat gotong royong dan kekeluargaan kemudian menjadi salah satu fondasi dalam membangun lingkungan sekolah yang lebih aman, nyaman dan kondusif.

Transformasi Menuju Sekolah Modern

Selama 22 tahun, SMAN 2 Nabire telah mengalami empat kali pergantian kepemimpinan kepala sekolah. Masing-masing kepemimpinan membawa karakter, program dan capaian tersendiri dalam perkembangan sekolah.

Pada masa kepemimpinan kepala sekolah ketiga, Titis Sulistyowati, periode 2018-2026, transformasi sekolah berlangsung cukup signifikan.

Modernisasi tidak hanya terlihat dari perkembangan sarana dan prasarana, tetapi juga dalam peningkatan prestasi akademik dan nonakademik serta pemantapan kualitas tenaga pendidik.

Perjalanan tersebut akhirnya mencapai tonggak sejarah baru setelah nama SMAN 3 Nabire resmi berubah menjadi SMAN 2 Nabire berdasarkan keputusan pemerintah daerah.

“Setelah berjalan selama dua dekade, tonggak sejarah baru tercipta berdasarkan Surat Keputusan Bupati Nomor 100.3.2-81, ditetapkan pada tanggal 29 Januari 2026. Nama sekolah resmi berganti dari SMAN 3 Nabire menjadi SMAN 2 Nabire,” katanyam

Pendidikan Butuh Dukungan Semua Pihak

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Nabire, Dina Pijer, memberikan apresiasi kepada seluruh pihak yang hadir dalam peringatan HUT tersebut, termasuk orang tua siswa, alumni, tokoh adat dan para pemangku kepentingan pendidikan.

Menurut Dina, kehadiran berbagai elemen masyarakat menunjukkan besarnya dukungan terhadap dunia pendidikan di Kabupaten Nabire.

“Kehadiran para tamu undangan merupakan bukti dukungan mereka terhadap dunia pendidikan. Mereka sadar bahwa pendidikan adalah kunci untuk mewujudkan masa depan yang cerah,” ujar Dina.

Ia menegaskan, kemajuan pendidikan tidak dapat hanya dibebankan kepada pihak sekolah dan pemerintah. Dibutuhkan keterlibatan berbagai unsur, mulai dari alumni, komite sekolah, masyarakat, tokoh adat hingga stakeholder lainnya.

Pemerintah Kabupaten Nabire melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, kata Dina, menyambut baik pelaksanaan HUT ke-22 SMAN 2 Nabire.

Selain menjadi ungkapan syukur atas berbagai capaian pendidikan, kegiatan tersebut juga menjadi sarana mempererat silaturahmi antara sekolah, siswa, alumni, orang tua dan seluruh pihak yang memiliki kepedulian terhadap kemajuan pendidikan.

Dari sekolah yang dahulu hanya memiliki tiga ruang kelas, 65 siswa dan harus melewati jalan berlumpur, SMAN 2 Nabire kini terus bergerak menuju pendidikan yang lebih modern. Perjalanan 22 tahun menjadi pengingat bahwa kemajuan pendidikan lahir dari proses panjang, semangat gotong royong dan komitmen banyak pihak.(red-paputeng)