Mama Emi, Potret Ketangguhan Perempuan Papua di Tengah Riuh Politik 

Papua Tengah – PAPUTENG.COM -Kaesang Pangarep hadir di Nabire membawa semangat konsolidasi politik Partai Solidaritas Indonesia (PSI) di Papua Tengah. Namun di tengah gemuruh yel-yel kader, tepuk tangan, dan atmosfer kemenangan Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil) DPW PSI Papua Tengah, Kamis (7/5/2026), ada satu sosok sederhana yang diam-diam mencuri perhatian.

Namanya Mama Emi. Perempuan paruh baya itu datang tanpa atribut partai, tanpa pengawalan, dan tanpa kursi kehormatan. Di tangannya hanya ada sebuah box plastik berisi air mineral, jagung rebus, kacang rebus, dan keripik sukun yang ia jajakan kepada peserta kegiatan.

Di sela-sela kesibukannya melayani pembeli, Mama Emi sesekali masuk ke dalam auditorium. Ia ikut bernyanyi, bertepuk tangan, dan memberikan semangat kepada peserta Rakorwil serta pengurus DPW dan DPD PSI Papua Tengah yang baru dilantik.

Bagi Mama Emi, hari itu bukan sekadar momentum politik. Itu juga kesempatan mencari rezeki. “Saya harus berjuang dengan berjualan seperti ini untuk memenuhi kebutuhan hidup sendiri dan anak,” ujarnya dengan nada tegar.

Wajahnya tampak lelah, tetapi semangatnya tidak surut. Perempuan yang dahulu dikenal dengan julukan “Gadis Monginsidi” itu mengaku sudah terbiasa bekerja keras demi bertahan hidup. Beberapa bulan lalu, rumahnya di Jalan Wolter Monginsidi dilalap api.

Musibah itu memaksanya memulai kembali hidup dari nol. Di tengah perjuangan tersebut, ia juga harus menerima kenyataan pahit ditinggalkan sang suami. Namun keadaan tidak membuat Mama Emi menyerah.

“Setiap ada momen, saya pasti ada dengan berjualan. Saya ingin membangun rumah,” katanya penuh harap. Di tengah hiruk-pikuk agenda politik nasional yang menghadirkan tokoh besar, Mama Emi menjadi gambaran nyata perempuan Papua yang bertahan dengan kekuatan sendiri. Ia hadir bukan untuk mencari sorotan, melainkan memperjuangkan kehidupan.

Sementara itu, Kaesang Pangarep tiba di Nabire melalui Bandara Douw Aturure sekitar pukul 15.25 WIT setelah melakukan kunjungan kerja ke sejumlah provinsi di Tanah Papua, yakni Papua, Papua Barat, dan Papua Barat Daya.

Selain membuka Rakorwil, putra Presiden RI ke-7Joko Widodo itu juga melantik pengurus DPW PSI Papua Tengah dan DPD PSI dari delapan kabupaten, yakni Nabire, Paniai, Deiyai, Dogiyai, Mimika, Puncak, Intan Jaya, dan Puncak Jaya.

Kepengurusan DPW PSI Papua Tengah dipimpin Isaias Douw sebagai ketua, didampingi Jemi Patabang sebagai sekretaris dan Maria Ina Erari sebagai bendahara.

Dalam pidato politiknya, Kaesang meminta seluruh kader PSI Papua Tengah untuk solid mendukung kepemimpinan Isaias Douw menuju Pemilu Legislatif 2029. “Kita dukung Pak Douw untuk memenangkan Pemilu Legislatif 2029. Anda yang hadir sampaikan kepada keluarga dan masyarakat tentang PSI,” kata Kaesang.

Ia juga mengingatkan kader PSI agar hadir di tengah masyarakat dan peduli terhadap warga yang mengalami kesulitan. “Bantu warga sekitar anda, jangan acuh. Bawa nama PSI di masyarakat. Meskipun saya bukan siapa-siapa di birokrasi tetapi saya ada akses, akses inilah yang akan saya pergunakan untuk membesarkan PSI,” tutupnya.

Di luar pidato dan panggung politik itu, sosok Mama Emi menjadi potret kecil tentang perjuangan rakyat sederhana di Papua Tengah. Di tangan yang menjajakan jagung rebus dan keripik sukun itu, tersimpan mimpi besar untuk kembali memiliki rumah dan kehidupan yang lebih baik. (red-paputeng)

Harga Beras di Intan Jaya Melonjak, Pemprov Papua Tengah Gerak Cepat Libatkan TPID dan OPD Strategis 

Papua Tengah – PAPUTENG.COM – Pemerintah Provinsi Papua Tengah bergerak cepat merespons lonjakan harga bahan pokok, khususnya beras di wilayah pegunungan Kabupaten Intan Jaya yang tercatat naik hingga 9,33 persen. Selain beras, sejumlah komoditas pangan lain seperti telur, daging ayam, dan minyak goreng juga mengalami kenaikan di atas rata-rata harga nasional.

Menyikapi kondisi tersebut, Pemprov Papua Tengah menggelar rapat koordinasi pengendalian inflasi di Ruang Rapat Wakil Gubernur dengan melibatkan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID), Badan Pusat Statistik (BPS), serta sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD) strategis.

Rapat dipimpin Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda Papua Tengah, Tumiran, yang menegaskan bahwa lonjakan harga di Intan Jaya dipicu oleh sejumlah faktor utama, terutama tantangan geografis wilayah pegunungan yang sulit dijangkau.

“Faktor utama penyebab harga beras di Intan Jaya yakni kondisi geografis yang sulit diakses, tingginya biaya transportasi, serta ketergantungan pasokan dari luar daerah,” ujar Tumiran.

Sebagai langkah cepat, Pemprov Papua Tengah menyiapkan enam strategi konkret sesuai arahan Kementerian Dalam Negeri RI untuk menekan laju inflasi daerah. Langkah tersebut meliputi operasi pasar, inspeksi mendadak (sidak) ke distributor, Gerakan Pangan Murah (GPM), subsidi transportasi atau ongkos kirim, serta pengawasan ketat terhadap potensi penimbunan bahan pokok.

Menurut Tumiran, karakteristik inflasi di Papua Tengah berbeda dengan daerah lain sehingga membutuhkan pola penanganan yang lebih spesifik dan berbasis kondisi lapangan. “Intervensi harus spesifik wilayah, cepat, dan berbasis data karena Papua Tengah memiliki karakter inflasi yang khas,” tegasnya.

Selain penanganan jangka pendek, Pemprov juga menyiapkan empat strategi jangka panjang guna mengantisipasi lonjakan harga yang dapat terjadi sewaktu-waktu. Strategi tersebut mencakup peningkatan produksi pangan lokal, penguatan peran TPID di setiap kabupaten, perluasan Gerakan Pangan Murah dan gerakan menanam, serta pembangunan sistem data harga berbasis real time.

Pemerintah berharap langkah terpadu tersebut tidak hanya menstabilkan harga kebutuhan pokok, tetapi juga menjaga daya beli masyarakat serta memperkuat stabilitas sosial dan ekonomi di seluruh wilayah Papua Tengah, khususnya daerah pegunungan yang rentan terhadap gejolak distribusi pangan.