Permintaan Kakao Nabire Capai 3 Kontainer per Bulan, Produksi Belum Mampu Penuhi Pasar

Nabire, PAPUTENG.COM – Permintaan biji kakao kering asal Kabupaten Nabire terus mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Tingginya kebutuhan pasar, terutama dari Surabaya, mencapai tiga kontainer setiap bulan.

Namun, besarnya permintaan tersebut belum mampu diimbangi oleh produksi kakao yang dihasilkan petani setempat.

Kepala Bidang Perkebunan Dinas Peternakan dan Perkebunan Kabupaten Nabire, Ronald Wilson Manuaron, mengatakan hingga saat ini produksi kakao Nabire masih jauh dari kebutuhan pasar.

Menurutnya, untuk memenuhi satu kontainer kakao saja diperlukan waktu hingga tiga bulan pengumpulan hasil panen dari para petani. “Kami mendapat permintaan kakao kering dari Surabaya hingga tiga kontainer setiap bulan. Namun kenyataannya, untuk memenuhi satu kontainer saja kami membutuhkan waktu sekitar tiga bulan,” ujar Ronald saat ditemui di ruang kerjanya beberapa waktu lalu.

Ronald menjelaskan, komoditas kakao pernah menjadi primadona perkebunan di Nabire pada periode 2000 hingga 2006. Saat itu produksi kakao berkembang pesat dan menjadi salah satu sumber pendapatan utama masyarakat.

Namun memasuki tahun 2007, produksi kakao mulai mengalami penurunan akibat serangan hama penggerek buah kakao (PBK), dan Kepik Penghisap buah (VSD) yang menyebabkan kerusakan tanaman.

Kondisi tersebut diperparah dengan merosotnya harga kakao di pasar global sehingga banyak petani beralih ke komoditas lain.

Meski demikian, dalam beberapa tahun terakhir harga kakao menunjukkan tren positif. Di tingkat petani, harga kakao kering kini berkisar antara Rp57.000 hingga Rp75.000 per kilogram, mengikuti perkembangan harga pasar nasional dan internasional.

Menurut Ronald, kualitas kakao sangat dipengaruhi oleh proses fermentasi, mutu biji, serta kondisi geografis wilayah penghasil. Di Kabupaten Nabire, Distrik Wapoga, Yaur, dan Uwapa dinilai memiliki potensi besar sebagai sentra produksi kakao karena didukung intensitas sinar matahari yang cukup baik untuk pertumbuhan tanaman.

“Hasil investigasi kami di lapangan menunjukkan minat masyarakat untuk kembali menanam kakao mulai tumbuh. Salah satu faktor pendorongnya adalah harga kakao yang kembali membaik baik di tingkat nasional maupun global,” katanya.

Selain kakao, Ronald menyebut Kabupaten Nabire juga memiliki potensi besar dalam pengembangan komoditas kopi, baik jenis robusta maupun arabika. Kopi robusta, lanjutnya, dapat tumbuh optimal pada ketinggian 400 hingga 700 meter di atas permukaan laut (mdpl), sedangkan kopi arabika membutuhkan ketinggian antara 1.000 hingga 2.000 mdpl.

“Kedua jenis kopi tersebut memiliki peluang berkembang dengan baik di Nabire karena kondisi geografis daerah ini sangat mendukung,” jelasnya.

Pemerintah Kabupaten Nabire melalui Dinas Peternakan dan Perkebunan terus berupaya mengembangkan berbagai komoditas perkebunan unggulan daerah. Selain kakao dan kopi, pemerintah juga mendorong pengembangan kelapa, sagu, dan pinang sebagai bagian dari strategi peningkatan ekonomi masyarakat berbasis sektor perkebunan.

Dengan meningkatnya permintaan pasar dan mulai bangkitnya minat petani, pemerintah berharap kejayaan kakao Nabire dapat kembali terulang sekaligus menjadi salah satu penggerak utama perekonomian daerah di masa mendatang. (red-paputeng)

Jadikan Postingan ini Sebagai Diskusi