NABIRE — Di usia 54 tahun, sosok Nicholas F. Mayor mungkin tampak sederhana dalam kesehariannya. Namun, di balik sikapnya yang humanis dan terbuka, tersimpan perjalanan hidup penuh dinamika, perjuangan, bahkan titik balik yang mengubah arah kehidupannya.
Lahir di Sukarno Pura (Jayapura: sekarang) pada 3 November 1971 dari seorang ayah asal Biak dan ibu asal Nabire, Mayor menghabiskan masa sekolah menengah atas di Jayapura. Seperti kebanyakan anak muda pada zamannya, ia pernah melewati fase pencarian jati diri yang tidak selalu berjalan mulus.
Masa remaja membawa Mayor bersentuhan dengan pergaulan yang kurang baik. Ia mengakui pernah terjerumus dalam kebiasaan mengonsumsi minuman keras dan berbagai bentuk kenakalan remaja. Kelompok pergaulan yang dipimpinnya bahkan cukup dikenal sehingga membuat lingkungan sekitar merasa resah.
Namun, di tengah masa sulit tersebut, hadir sosok seorang agamawan Muslim bernama Haji Muslimin (alm) yang kemudian menjadi salah satu titik balik penting dalam kehidupannya.
Haji Muslimin yang merupakan pengurus masjid mengajak Mayor dan kawan-kawannya untuk melakukan kegiatan positif. Selama kurang lebih tiga tahun, Mayor bersama kelompoknya terlibat dalam berbagai aktivitas di masjid, mulai dari membersihkan lingkungan masjid, menjaga keamanan, menata tempat salat hingga membantu menjaga sandal jamaah saat salat Jumat, salat berjamaah, maupun selama Ramadan.
“Setelah lulus SMA sempat menganggur. Saya dipanggil Pak Haji untuk membantu menjaga keamanan masjid, menyiapkan tempat salat sampai menjaga sandal jamaah saat tarawih,” tutur Mayor.
Pengalaman tersebut tidak hanya mengubah aktivitas kesehariannya, tetapi juga perlahan membentuk cara pandang Mayor terhadap kehidupan. Ia bahkan pernah mengikuti salat bersama umat Muslim di bawah bimbingan Haji Muslimin.
Setelah menjalani masa pelayanan di masjid, perjalanan spiritual dan sosial Mayor berlanjut. Ia kemudian aktif melayani di gereja selama kurang lebih tujuh tahun. Di tengah aktivitas pelayanan tersebut, ia juga melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi.
Menurutnya pengalaman dibimbing oleh dua tokoh agama dari latar belakang berbeda menjadi tempaan yang sangat berarti. Keduanya mengajarkannya tentang disiplin, pelayanan, kehidupan bermasyarakat dan pentingnya memiliki arah hidup.
Perubahan itu kemudian mengantarkannya pada babak baru. Pada 1999, Mayor mendaftarkan diri sebagai calon Pegawai Negeri Sipil (PNS). Setahun kemudian, ia dinyatakan lulus dan mulai mengabdi sebagai aparatur sipil negara di lingkungan Dinas Perdagangan.
Kariernya terus berkembang. Pada masa akhir pemerintahan Gubernur Papua Barnabas Suebu, Mayor dilantik sebagai Kepala Subbagian Tata Usaha pada UPTD Samsat Waropen. Jabatan tersebut dijalaninya selama sekitar empat tahun sebelum dimutasi ke Samsat Sentani dengan posisi yang sama.
Perjalanan kedinasannya kemudian berlanjut ke Samsat Paniai selama dua tahun. Pada 2017, ia kembali dimutasi ke Nabire.
“Dari Sentani kami dimutasi lagi ke Samsat Paniai selama dua tahun. Tahun 2017 dimutasi ke Nabire. Pada masa pemerintahan Gubernur Lukas Enembe, saya dilantik menjadi Kepala Samsat Puncak Jaya dan menjabat selama dua tahun,” ujarnya.
Ketika Nabire berkembang dalam dinamika pembentukan Daerah Otonomi Baru (DOB), sejumlah pegawai Samsat Nabire kembali ke Provinsi Papua sebagai provinsi induk. Mayor memilih tetap melanjutkan pengabdiannya di Nabire.

Keputusan tersebut membawanya pada kepercayaan baru. Ia kemudian dilantik dan dipercaya oleh Gubernur Papua Tengah Meki Fritz Nawipa sebagai Kepala UPT Samsat Nabire, jabatan yang masih diembannya hingga kini.
Dari perjalanan hidup yang pernah berada di persimpangan hingga dipercaya memegang tanggung jawab sebagai aparatur negara, Mayor melihat bahwa masa lalu bukanlah alasan untuk berhenti melangkah.
Kini, menjelang masa purna baktinya sebagai ASN, ia memilih meninggalkan pesan bagi generasi muda, khususnya Generasi Z, agar tidak mudah menyerah menghadapi perubahan zaman.
“Jangan takut jatuh. Terus berjuang dan berdoa. Era reformasi digital seperti sekarang tantangannya jauh lebih besar. Informasi begitu mudah didapatkan. Karena itu, hati-hati dalam memilih tontonan dan tayangan di handphone,” pesannya.
Bapak dengan dua anak laki-laki dan beristri seorang PNS di Dinas Perindustrian dan Perdagangan Papua itu, juga mengingatkan generasi muda agar tidak meninggalkan nilai-nilai agama dalam menjalani kehidupan.
“Bekali diri dengan ilmu agama. Apa pun agamanya, secara dasar ajarannya mengajarkan ketuhanan dan cinta. Jangan pernah jauh dari agamamu, dalam kondisi apa pun. Agama yang akan mampu membangkitkan kita dari keterpurukan,” tegasnya.
Perjalanan Nicholas F. Mayor menunjukkan bahwa kehidupan tidak selalu berjalan lurus. Ada masa ketika seseorang jatuh, tersesat dan berada di persimpangan. Namun, selalu ada kesempatan untuk bangkit dan menentukan arah baru.
Dari lingkungan pergaulan yang penuh gejolak, pelayanan lintas komunitas keagamaan, hingga perjalanan panjang sebagai ASN, Mayor telah melewati berbagai fase kehidupan.
Bagi dirinya, menembus batas zaman bukan sekadar soal usia atau jabatan, melainkan tentang keberanian untuk berubah, belajar dari masa lalu, terus melayani, dan meninggalkan pesan baik bagi generasi yang akan datang.(red-paputeng)

