NABIRE — Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA) di Kabupaten Nabire menunjukkan peningkatan seiring paparan polusi asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Berdasarkan laporan harian fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes), tercatat 629 kasus ISPA selama periode 24–28 Agustus 2026.
Jika digabungkan dengan 276 kasus yang tercatat pada minggu ke-32, total kasus ISPA yang tercantum dalam rekap Dinas Kesehatan Kabupaten Nabire mencapai 905 kasus.
Hal itu diungkap Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Nabire, Silas Elias Numubogre melalui Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Agustin Elvin.
Data tersebut diperbarui pada 28 Agustus 2026 sekitar pukul 18.00 WIT dan bersumber dari laporan harian fasyankes di Kabupaten Nabire.
“Kasus Tertinggi Terjadi pada 24 Agustus, dalam periode lima hari tersebut, jumlah kasus harian mengalami fluktuasi. Pada 24 Agustus tercatat 232 kasus, kemudian turun menjadi 14 kasus pada 25 Agustus, “ujar Agustin, Jum’at (28/8/26).

Kasus kembali meningkat pada 26 Agustus dengan 145 kasus, disusul 139 kasus pada 27 Agustus. Pada 28 Agustus, masih tercatat 99 kasus.
Dengan demikian, 24 Agustus menjadi hari dengan jumlah laporan kasus tertinggi dalam periode tersebut.
Wilayah Kerja Puskesmas Kalibumi Catat Kasus Terbanyak
“Dari 19 fasyankes yang tercantum dalam laporan, wilayah kerja Puskesmas Kalibumi Waroki mencatat jumlah kasus ISPA paling tinggi, yakni 198 kasus selama 24–28 Agustus 2026, “jelasnya.
Selanjutnya, Puskesmas Samabusa mencatat 70 kasus, Karang Tumaritis 45 kasus, Siriwini 35 kasus, dan Kalibobo 33 kasus.
Selain lima fasyankes tersebut, sejumlah wilayah (puskesmas) lainnya juga mencatat kasus, antara lain BMW 29 kasus, Nabarua dan Lagari masing-masing 24 kasus, Karadiri serta Nabire Kota masing-masing 19 kasus, dan SP3 Wadio sebanyak 18 kasus.
Asap Karhutla Berisiko Memperburuk Gangguan Pernapasan
Dinas Kesehatan Kabupaten Nabire menjelaskan bahwa ISPA merupakan infeksi pada saluran pernapasan yang dapat menyerang bagian mulai dari hidung, tenggorokan hingga paru-paru.
Sementara itu, asap yang dihasilkan dari kebakaran hutan dan lahan mengandung partikel halus PM2.5 yang dapat masuk ke saluran pernapasan dan berpotensi mengiritasi serta memperparah gangguan pernapasan.
“Gejala ISPA yang perlu diwaspadai antara lain batuk, pilek, sesak napas, sakit tenggorokan, dan demam, “tambah Agustin.
Masyarakat yang mengalami gejala tersebut diimbau segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat, terlebih apabila mengalami keluhan sesak napas atau kondisi kesehatan memburuk.
Masyarakat Diminta Kurangi Paparan Asap

Untuk mengurangi risiko kesehatan akibat paparan asap karhutla, masyarakat diimbau menggunakan masker ketika beraktivitas di luar rumah, mencuci tangan secara rutin, serta menutup pintu dan jendela saat kondisi asap cukup tebal.
Masyarakat juga dianjurkan memperbanyak minum air putih dan mengonsumsi makanan bergizi untuk menjaga kondisi tubuh.
Dinas Kesehatan turut mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran hutan dan lahan yang dapat memperburuk kualitas udara dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan.
Dengan total 905 kasus yang tercatat, perkembangan ISPA di Nabire menjadi perhatian serius, terutama di tengah kondisi polusi asap karhutla. Masyarakat diharapkan meningkatkan kewaspadaan dan segera mendapatkan pelayanan medis apabila mengalami gejala gangguan pernapasan. (red-paputeng)





