Produksi Ikan Tangkapan Papua Tengah Capai 26.116 Ton pada 2026

NABIRE – PAPUTENG.COM – Produksi perikanan tangkap di Provinsi Papua Tengah mencapai 26.116 ton sepanjang 2026. Produksi tersebut berasal dari hasil tangkapan laut serta kegiatan budidaya perikanan di sejumlah danau.

 

Hal itu disampaikan Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Papua Tengah, Karlos Matuan, saat membuka peluncuran aplikasi Sistem Informasi Bahari Papua Tengah (Si Bapa) di Ballroom Kantor Gubernur Papua Tengah, Kamis (24/9/2026).

 

Menurut Matuan, angka produksi tersebut mencakup hasil tangkapan perikanan laut umum serta budidaya yang dilakukan di tiga danau, yakni Danau Paniai, Danau Tigi, dan Danau Tage.

 

“Angka 26.116 ton ini berasal dari tangkapan laut umum dan budidaya di tiga danau, yaitu Danau Paniai, Tigi, dan Tage,” ujar Matuan.

 

Ia mengatakan, sebagai provinsi baru, Papua Tengah memiliki potensi kelautan dan perikanan yang cukup besar. Wilayah tersebut memiliki garis pantai sekitar 1.128 kilometer dengan luas laut mencapai sekitar 16.525,88 kilometer persegi serta memiliki 50 pulau.

 

Selain itu, Papua Tengah memiliki kawasan konservasi laut yang disebut mencapai sekitar 384.000 hektare. Di wilayah tersebut juga terdapat Taman Wisata Teluk Cenderawasih dengan luas sekitar 1.453.500 hektare, yang terdiri atas wilayah perairan/laut dan daratan pesisir.

 

“Data di pusat, luas laut konservasi kita masuk dalam potensial konservasi sektor kelautan dan perikanan,” tutur Matuan.

 

Selain sektor perikanan, Matuan menyebut Papua Tengah juga memiliki potensi pengembangan sumber daya air (PSDA), termasuk untuk pembangkit listrik tenaga air (PLTA), khususnya di Kabupaten Paniai dan Deiyai.

 

Sementara itu, Staf Ahli II Bidang Kemasyarakatan, SDM, dan Pengembangan Otsus, Ukkas, yang mewakili Gubernur Papua Tengah Meki Fritz Nawipa, mengatakan luas wilayah laut Papua Tengah berdasarkan data yang dimiliki pemerintah mencapai sekitar 17.000 kilometer persegi.

 

“Menurut data, wilayah laut kita sekitar 17.000 kilometer, sekitar 11.000 wilayah perairan/laut dan 6.000 wilayah pesisir/daratan. Dengan wilayah laut yang cukup luas, tentu potensi ikan pun berlimpah,” kata Ukkas.

 

Menurut Ukkas, besarnya potensi sumber daya alam tersebut dapat menjadi salah satu modal bagi Papua Tengah untuk membangun kemandirian daerah.

 

Karena itu, Pemerintah Provinsi Papua Tengah terus mendorong pengelolaan sumber daya secara terencana dan berbasis data. Salah satunya melalui peluncuran aplikasi Si Bapa sebagai sistem informasi yang terintegrasi dan dapat diakses untuk mendukung pengelolaan sektor kelautan dan perikanan.

 

“Melalui launching aplikasi Sistem Informasi Bahari Papua Tengah (Si Bapa), sebuah sistem terintegrasi, mudah diakses, dan dapat dipertanggungjawabkan sebagai provinsi baru. Kita harus berani melakukan perubahan,” ujarnya.

 

Ukkas menambahkan, perencanaan pembangunan berbasis data menjadi bagian penting dalam memastikan setiap program pemerintah dapat dilaksanakan secara tepat sasaran.

 

“Menjalankan program berdasarkan data yang akurat, kita meyakini program yang dikerjakan akan tepat sasaran dan membawa manfaat bagi masyarakat,” pungkasnya.(red-paputeng.com)

Rapimprov II Kadin Paputeng, Gubernur Dorong Pengusaha Kreatif dan Produktif

NABIRE – PAPUTENG.COM – Gubernur Papua Tengah Meki Fritz Nawipa (Mepa) mendorong Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Papua Tengah untuk memperkuat kreativitas dan produktivitas dunia usaha melalui pengembangan produk lokal yang memiliki nilai ekonomi dan daya saing.

Hal tersebut disampaikan Meki Nawipa saat membuka Rapat Pimpinan Provinsi (Rapimprov) II Kadin Papua Tengah di Guest House, Nabire, Kamis (24/9/2026).

Dalam sambutannya, Meki menekankan pentingnya peran Kadin dalam mendorong pertumbuhan sektor usaha sekaligus menciptakan lapangan kerja melalui pengembangan produk, bukan hanya bergantung pada pemerintah.

Ia mencontohkan persoalan upah minimum regional (UMR) Papua yang berada di kisaran Rp4 juta. Menurutnya, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian bersama, terutama bagi dunia usaha di Papua Tengah.

“Perumusan upah minimum regional Papua di kisaran angka Rp4 juta, kedua setelah UMR DKI Jakarta. Di sinilah peran aktif Kadin Papua, khususnya Papua Tengah, untuk melakukan kalkulasi apakah di angka Rp4 juta ini para pengusaha di Papua Tengah mampu membayarkan atau tidak,” ujar Meki.

Meki juga menyoroti kecenderungan masyarakat yang masih menjadikan pemerintah sebagai tujuan utama dalam mencari pekerjaan. Karena itu, ia mendorong Kadin yang diisi para pengusaha untuk melahirkan berbagai terobosan melalui kegiatan produksi yang memiliki nilai ekonomi.

Menurutnya, Papua Tengah memiliki sumber daya alam yang melimpah dan dapat dikembangkan menjadi komoditas unggulan. Salah satunya adalah kopi Papua yang telah memiliki pasar dan dikenal karena kualitasnya.

Ia mengatakan, daya saing produk tidak hanya ditentukan oleh kualitas bahan baku, tetapi juga branding dan kemasan yang mampu meningkatkan nilai jual produk.

“Kopi Papua telah diakui pasar dunia akan kualitasnya. Sekarang bagaimana caranya Kadin bisa memproduksi kopi lokal kita yang bisa memberikan nilai ekonomi tinggi. Letaknya ada pada kemasan,” tegasnya.

Selain pengembangan produk, Meki mengatakan pertumbuhan ekonomi Papua Tengah sangat bergantung pada pertumbuhan ekonomi di masing-masing kabupaten. Dalam hal ini, sektor swasta dinilai memiliki peran penting sebagai salah satu penggerak ekonomi masyarakat.

Untuk mendukung pembangunan daerah, ia mengingatkan para pengusaha agar memenuhi kewajiban membayar pajak dan retribusi daerah.

“Saya berpesan kepada para pengusaha untuk taat membayar pajak, tidak main di bawah meja,” tegas Meki.

Tekan Biaya Transportasi

Dalam kesempatan tersebut, Meki juga meminta Kadin Papua Tengah mencari solusi untuk menekan biaya transportasi yang masih relatif tinggi. Menurutnya, persoalan transportasi menjadi salah satu faktor yang memengaruhi daya saing komoditas lokal.

Ia mencontohkan potensi perikanan di wilayah Papua Tengah, khususnya Kabupaten Nabire dan Mimika yang memiliki wilayah laut cukup luas.

Perairan Papua dan Teluk Cenderawasih, kata dia, memiliki potensi perikanan yang besar, termasuk ikan dan kepiting yang dapat dikembangkan sebagai komoditas unggulan daerah.

Meki menyebut kepiting lokal Papua memiliki permintaan di pasar nasional, termasuk di Pulau Jawa. Namun, tingginya biaya transportasi dan lamanya waktu pengiriman dapat memengaruhi kualitas sekaligus harga jual komoditas tersebut.

“Dari dua pemetaan tadi, sudah cukup memberi gambaran dari mana dan bagaimana cara kita melangkah agar komoditas Papua Tengah bisa berkompetisi dari segi harga dan kualitas produksi,” pungkasnya.

Sementara itu, Ketua Kadin Provinsi Papua Tengah Alexander Gobai mengatakan Rapimprov II menjadi momentum untuk meningkatkan pemahaman peserta mengenai struktur organisasi serta peran dan pergerakan Kadin dalam pembangunan ekonomi daerah.

Menurut Alexander, hal tersebut penting karena Kadin Papua Tengah diisi oleh talenta-talenta muda dan sejumlah anggota yang masih tergolong pemula dalam organisasi.

“Kami berharap Kadin yang diisi dengan talenta-talenta muda dan sebagian para anggota pemula, yang belum banyak memahami apa, bagaimana keberadaan dan pergerakan kami, dapat memahami organisasi ini,” ujar Alex.

Ia berharap Rapimprov II dapat memperkuat konsolidasi internal sekaligus mendorong peran Kadin dalam mendukung pembangunan dan perekonomian di Provinsi Papua Tengah.(red-paputeng.com)