Langkah Humanis Alfred Papare Atasi Konflik

 

NABIRE, PAPUTENG.com –

Di tengah meningkatnya ketegangan keamanan di Kabupaten Nabire beberapa waktu lalu, sebuah komunikasi tak biasa pernah terjadi antara mantan Kapolda Papua Tengah, Alfred Papare, dengan pimpinan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB), Aibon Kogoya. Percakapan tersebut berlangsung melalui sambungan telepon saat situasi di wilayah itu sedang mencekam.

Kala itu, kabar mengenai pergerakan KKB yang disebut-sebut mulai mendekati pusat Kota Nabire menimbulkan kekhawatiran di kalangan masyarakat. Di tengah suasana penuh ketegangan tersebut, komunikasi langsung antara aparat keamanan dan pimpinan kelompok bersenjata justru menjadi salah satu upaya untuk menahan eskalasi konflik.

Dalam percakapan tersebut, Alfred Papare yang saat itu masih menjabat sebagai Kapolda Papua Tengah menyampaikan pesan tegas agar masyarakat sipil tidak dilibatkan dalam konflik.

“Jangan libatkan masyarakat sipil, mereka tidak bersenjata,” demikian cerita Alfred Papare dalam acara pisah sambut Kapolda Papua Tengah dari Irjen Pol Alfred Papare kepada Brigjen Pol Jermias Rontini di Aula Wicaksana Laghawa, Selasa (31/3/26).

Di tengah kerasnya dinamika konflik di Papua, komunikasi itu menjadi momen langka ketika dua pihak yang berada pada posisi berseberangan mencoba menegaskan batas-batas kemanusiaan. Dari dialog tersebut, muncul komitmen bahwa warga sipil tidak boleh dijadikan sasaran dalam situasi konflik bersenjata.

Meski demikian menurut Papare, kelompok tersebut tetap menyatakan akan melakukan perlawanan terhadap aparat keamanan. Kondisi itu dipahami Alfred sebagai bagian dari risiko yang melekat dalam tugas menjaga stabilitas keamanan. Ketegangan tetap ada, namun ia menilai jalur komunikasi tidak boleh terputus.

Sebagai bagian dari pendekatan tersebut, Alfred tidak hanya berkomunikasi langsung dengan pimpinan kelompok bersenjata, tetapi juga menjalin dialog dengan keluarga, kerabat, hingga tokoh agama yang berada di lingkaran dekat mereka. Ia meyakini bahwa upaya menciptakan perdamaian sering kali lahir dari hubungan personal dan pendekatan kemanusiaan yang dibangun secara perlahan.

Sementara itu, Gubernur Papua Tengah, Meki Nawipa, mengenang kebersamaannya dengan Alfred Papare saat membahas berbagai persoalan keamanan di wilayah tersebut. Menurutnya, diskusi sering dilakukan dalam suasana santai dan penuh keakraban.

“Jarang sekali saya memanggil beliau secara resmi ke kantor, justru lebih sering kami berdiskusi sambil ngopi. Dari percakapan sederhana itu sering lahir gagasan yang bermanfaat bagi daerah ini,” kata Nawipa.

Ia juga mengingat kembali situasi pada awal masa jabatannya ketika konflik di Kabupaten Puncak Jaya memanas dan menimbulkan tekanan dari berbagai pihak. Di tengah kondisi tersebut, Alfred Papare memilih pendekatan yang lebih tenang dan terukur.

“Beliau mengatakan kepada saya, ‘Pak Gubernur, sabar dulu, saya akan turun langsung dan mengatur situasi.’ Dan benar, beliau datang bukan untuk memperkeruh keadaan, tetapi membawa solusi,” kenang Nawipa. (red-paputeng)

Detik Kritis di Udara Papua, Pilot Wanita Selamatkan Seluruh Penumpang

NABIRE,PAPUTENG.com  –

Sebuah pesawat perintis milik maskapai Smart Air jenis Cessna 208 Caravan dengan nomor registrasi PK-SNS melakukan pendaratan darurat di perairan Pantai Karadiri, Kabupaten Nabire, Papua Tengah, Selasa (27/1/2026) siang. Seluruh penumpang dan awak pesawat dilaporkan selamat dalam insiden tersebut.

Pesawat yang dipiloti Kapten Tania lepas landas dari Bandara Nabire menuju Kaimana sekitar pukul 12.45 WIT. Tak lama setelah tinggal landas, pilot mendeteksi gangguan serius pada mesin yang menyebabkan daya dorong pesawat menurun drastis.

Menghadapi kondisi darurat tersebut, Kapten Tania sempat berupaya melakukan prosedur return to base (RTB) untuk kembali ke Bandara Nabire. Namun, akibat kondisi mesin yang terus memburuk dan ketinggian pesawat yang tidak memungkinkan, pilot memutuskan melakukan pendaratan darurat di laut sebagai opsi paling aman.

Sekitar pukul 12.55 WIT, pesawat berhasil mendarat darurat di perairan Pantai Karadiri. Meski badan pesawat sempat terendam sebagian, struktur utama pesawat tetap utuh sehingga seluruh penumpang dan kru dapat dievakuasi dengan selamat.

Warga sekitar pantai yang menyaksikan kejadian tersebut segera memberikan bantuan awal, sebelum tim gabungan dari TNI, Polri, pihak bandara, dan instansi terkait tiba di lokasi untuk melakukan proses evakuasi lanjutan. Seluruh korban kemudian dibawa ke RSUD Nabire guna menjalani pemeriksaan medis.

Pihak berwenang memastikan tidak terdapat korban jiwa dalam insiden ini. Keberhasilan pendaratan darurat tersebut dinilai tidak lepas dari ketenangan, pengalaman, serta pengambilan keputusan cepat pilot dalam situasi kritis.

Kapten Tania dikenal sebagai salah satu pilot penerbangan perintis yang telah lama melayani rute-rute di wilayah Papua, daerah dengan karakteristik cuaca dan medan yang menantang. Insiden ini menjadi contoh pentingnya profesionalisme dan kepatuhan terhadap prosedur keselamatan penerbangan.

Saat ini, Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) dijadwalkan melakukan investigasi untuk mengetahui penyebab pasti gangguan teknis pada pesawat. Sementara itu, bangkai pesawat yang berada di sekitar Pantai Karadiri menjadi saksi keberhasilan penyelamatan seluruh penumpang dalam salah satu manuver paling berisiko di dunia penerbangan. (ist/dari berbagai sumber)

Satu Harapan Mama Perajut Noken, Hadirnya Museum Noken di Deiyai

WAGHETE, PAPUTENG.Com –

Noken merupakan salah satu tradisi luhur bernilai tinggi yang diwariskan secara turun temurun sejak dahulu kala hingga saat ini. Di seluruh Tanah Papua, Noken sudah menjadi bagian dari hidup yang tidak terpisahkan.

Deiyai merupakan salah satu daerah yang sudah sangat identik dengan Noken. Hampir seluruh orang mulai dari anak kecil hingga usia senja milik noken masing-masing. Orang Deiyai sudah jadikan noken sebagai jati diri setiap pribadi

Salah satu perajut Noken tetap di Waghete, Mama Martha Kotouki berharap agar bisa hadir sebuah tempat untuk bisa jadikan Noken sebagai wadah pemersatu sekaligus mewariskan ilmu-ilmu hidup tentang noken

“Bila perlu pemerintah buat satu Museum Noken. Karena, Museum Noken bisa menjadi pusat berbagai pengetahuan dan kebudayaan. Sehingga, keberadaan Museum Noken ini akan sangat penting untuk masyarakat Deiyai, terutama kepada generasi muda ke depan,”sarannya.

Senada dengan itu perajut Noken yang lain, Mama Yosepina Mote mengatakan hal yang sama. Dirinya berharap pemerintah daerah, provinsi maupun pusat bisa hadirkan satu rumah besar.

“Iyo. Pemerintah dorang ini bisa dengar kami punya permintaan ini. Supaya ada rumah besar Noken. Kami mau wariskan ilmu noken ini kepada anak-anak,”pinta Mama Yosepina Mote yang sudah rajut noken sejak lama

Terkait permintaan Museum Noken dari mama-mama penjual Noken ini, Pemerintah Kabupaten Deiyai melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Deiyai bidang Kebudayaan, Yanuarius Doo mengatakan Noken merupakan salah satu budaya suku bangsa Mee. Sehingga, kehadiran Museum Noken di Deiyai menjadi Impian dan harapan semua pihak di Deiyai

“Noken itu tidak bisa dipisahkan dengan orang Mee dalam hidup sehari-hari. Maka, ke depan akan sangat baik jika Museum Noken hadir di Deiyai” kata Yanuarius Doo, Sabtu siang (01/11/2025) di Waghete, Deiyai.

Yanuarius Doo percaya, salah satu misi yang yang didorong Bupati dan Wakil Bupati Deiyai, Melkianus Mote dan Ayub Pigome adalah memajukan budaya sebagai cerminan jati diri masyarakat.

Misi Bupati Deiyai, kata Yanuarius Doo, sudah sejalan dengan salah satu program prioritas dan perhatian serius dari Gubernur Papua Tengah. Dimana, pelestarian budaya dan identitas Papua menjadi perhatian serius pemerintah provinsi. Lembaga adat dan kearifan lokal akan diberdayakan kembali sebagai penjaga nilai-nilai luhur.

Gubernur Nawipa juga mendorong penamaan fasilitas umum seperti bandara dengan nama tokoh misionaris atau tokoh lokal berpengaruh, sebagai bentuk penghormatan dan pelestarian warisan sejarah.

Maka itu, Yanuarius Doo berharap dan meminta perhatian Serius dari Kementrian Kebudayaan bisa menjawab kerinduan dan permintaan dari para perajut Noken di Deiyai ini. Karena, memajukan kebudayaan merupakan misi bersama, baik dari Bupati Deiyai, Gubernur Papua Tengah bersama Presiden RI

“Untuk mewujudkan misi ini, kami sangat mengharapkan kehadiran Museum Noken di Deiyai. Karena itu merupakan kerinduan besar dari masyarakat kabupaten Deiyai. Maka itu kami berharap agar Presiden Prabowo Subianto melalui Kementrian Kebudayaan bisa menjawab harapan dari masyarakat ini,”ujarnya.

Doo juga berharap Museum Noken ini akan menjadi tempat untuk melakukan berbagai aktifitas kebudayaan. Terutama akan menjadi tempat atau pusat ilmu hidup Noken Kehidupan yang sangat berarti bagi suku Mee di Deiyai

Secara terpisah, Ketua KNPI Deiyai, Melison Dogopia mengatakan Noken merupakan tradisi luhur dan mulia. Sehingga, tidak salah jika ada permintaan dari mama-mama perajut Noken di Deiyai meminta dan mengharapkan hadirnya sebuah Museum Noken di Deiyai

“Karena, yang cetuskan Noken Papua, Bapak Titus Pekei merupakan putra terbaik dari Deiyai. Akan jauh lebih baik jika Museum Noken hadir di sini. Ini juga akan sangat berarti bagi generasi muda Deiyai ke depan,” ungkap Melison Dogopia. (PK/edtr)

DPW Perindo Paputeng Salurkan Bantuan Bagi Anak – Anak Sekolah di Intan Jaya

NABIRE, PAPUTENG –

Plt. Ketua DPW Perindo Provinsi Papua Tengah Philemon Keiya menyalurkan bantuan alat – alat keperluan sekolah seperti buku tulis, bolpen, warna, pensil, alat peraga baca dan menghitung.

“Kami salurkan bantuan ini agar anak-anak Intan Jaya yang sedang mengungsi, yang selama ini tidak belajar dengan baik bisa kembali mendapatkan pendidikan sekalipun ada di tempat pengungsian,”terangnya dalam rilis resmi yang diterima redaksi baru – baru ini.

Dijelaskannya alasan memilih untuk membantu para pelajar ini karena pendidikan sangat penting. Anak-anak jangan korban karena berbagai konflik.

DPW Partai PERINDO Provinsi Papua Tengah menolak segala bentuk konflik di Papua Tengah yang mengorbankan warga tidak berdosa. Apalagi mengakibatkan anak-anak tidak bisa belajar dengan baik.

Hal ini ancaman serius bagi masa depan dari anak-anak. Konflik harus diakhiri di Papua Tengah.  “Bantuan ini kami salurkan melalui Posko Kemanusiaan yang dibuka oleh Pemuda Katolik di Nabire,”tuturnya.

Pembagian alat sekolah ini bertempat di Posko Kemanusiaan yang dibuka Pemuda Katolik, di Gereja Katolik Kristus Sahabat Kita (KSK) Meriam, Nabire – Papua Tengah pada  hari Kamis (29/5/2025) lalu. (lia)

BPK RI Paputeng Ikut Berkurban Jelang Hari Raya Idul Adha

NABIRE, PAPUTENG –

Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia Perwakilan Provinsi Papua Tengah (Paputeng), menyerahkan hewan qurban bagi masyarakat nabire di Bumi Wonorejo Distrik Nabire, Kabupaten Nabire, Papua Tengah, Sabtu (31/5/2025)

Penyerahan hewan qurban dalam rangka memperingati hari raya Idul Adha di Nabire, untuk itu BPK RI Perwakilan Provinsi Papua Tengah menyerahkan hewan qurban bagi masyarakat nabire lebih khusus Bumi Wonorejo Nabire.

Subagyo Ak., M.Si., CSFA, ACPA, CA, CPSAK selaku Kepala BPK RI Perwakilan Provinsi Papua Tengah mengatakan penyerahkan hewan qurban ini merupakan titipan dan amanah Anggota 6 BPK RI Drs. H. Fathan Subchi, M.A.P., CIISA., ChFA berupa hewan Kurban Sapi sebanyak 3 ekor.

Dijelaskannya kegiatan ini bertujuan untuk memperingati hari raya Idul Adha untuk itu kita sebagai umat Islam yang mencontoh  Nabi Ibrahim bersedia mengorbankan putranya Nabi Isma’il sebagai wujud kepatuhan terhadap Allah, ujarnya”.

“Untuk menunjukan bahwa kita ini, menjalakan syariah ketentuan dari Allah, kita berkorban berbagi bersama tentang kebahagian,  tentang kebaikan di hari raya  Idul Adha,”tuturnya.

Lanjutnya hal ini merupakan titipan dan amanah Anggota 6 BPK RI Drs. H. Fathan Subchi, M.A.P., CIISA., ChFA kepada masyarakat Nabire di bumi Wonorejo Nabire.

Sementara itu Munadi selaku tokoh agama mengucapkan terima kasih kepada BPK RI Perwakilan Provinsi Papua Tengah telah berbagi kepada masyarakat di Bumi Wonorejo Nabire berupa Hewan Qurban.

“Semoga apa yang menjadi niat baik dapat dilancarkan rejekinya oleh Allah SWT dan kami masyarakat Bumi Wonorejo turut bergembira, sehingga hewan qurban ini dapat di kelola bersama-sama masyarakat,”ucapnya.

Sementara itu Tolkah selaku ketua panitia menjelaskan untuk hari raya Idul Adha tahun 2025 pihaknya akan merencanakan untuk menyerahkan kepada 1.600 KK yang ada di Bumi Wonorejo, dan sampai saat ini hewan qurban yang telah terkumpul sebanyak 17 Ekor, jelasnya. (editor)

Warga Puncak Jaya dan TNI Peringati 1 Mei di Bukit Zaitun

MULIA, PAPUTENG –
Suasana haru menyelimuti Bukit Zaitun, Kamis (1/5/2025), saat ribuan warga dan Satgas Pamtas Kewilayahan Yonif 715/Motuliato beserta aparat gabungan mengibarkan bendera Merah Putih raksasa. Dalam rangka memperingati momen bersejarah integrasi Papua ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Momentum ini sebagai wujud nyata nasionalisme masyarakat Puncak Jaya yang diungkapkan dengan penuh semangat dan khidmat. Bendera Merah Putih berukuran besar dikibarkan secara gotong royong di puncak bukit, diiringi lagu “Indonesia Raya” yang menggema dari suara rakyat dan aparat yang hadir.
“Pengibaran bendera raksasa ini adalah simbol kuat bahwa masyarakat Puncak Jaya mencintai Indonesia. Ini adalah pernyataan bahwa kami adalah bagian dari NKRI,” kata Letkol Inf Prawito.
Selain itu, dirinya menyinggung pentingnya memahami sejarah 1 Mei 1963 sebagai hari kembalinya Irian Barat (kini Papua) ke pangkuan Ibu Pertiwi. Ia menyadari bahwa ada dua narasi sejarah yang berkembang, namun kegiatan ini menjadi bukti bahwa warga Papua punya tekad untuk menjaga keutuhan bangsa.
“Kami tidak menutup mata terhadap berbagai narasi yang berkembang, namun kegiatan hari ini adalah jawaban: masyarakat Papua, khususnya Puncak Jaya, berdiri teguh bersama NKRI,” tegasnya.
Sementara itu Ketua Klasis GIDI Mulia, Telius Wonda yang dengan mata berkaca-kaca menyampaikan apresiasinya atas kegiatan ini.
“Saya sangat tersentuh. Ini bukan sekadar pengibaran bendera, ini adalah penyemangat, penanaman cinta tanah air yang harus terus dilanjutkan setiap tahun,”akunya.
Kegiatan ini dihadiri  Dandim 1714/PJ Letkol Inf Irawan Setya Kusuma, Kapolres Puncak Jaya AKBP Achmad Fauzan, Dansatgas Yonif 112/DJ Letkol Inf Fiska Bagus, Dansatgas Rajawali II Letkol Inf David Jihandika, Dansattis Mandala V Kapten Inf Mifta, Kapos Elang V Lettu Inf Wira Sagala, Tokoh Agama Enus Kuluwa, Tokoh Masyarakat Niles Talenggeng, Gembala Mokoniak Tabuni, Pdt Simon Okowally dan Kepala Suku Distrik Mulia Erves Wonda. (Tim)