Ditengah Cuaca Tak Menentu, Polisi Berhasil Evakuasi Korban Penyanderaan KKB ke Timika

TIMIKA, PAPUTENG.com  –   Harapan untuk menyelamatkan korban penyanderaan kelompok kriminal bersenjata (KKB) di Distrik Jila, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, akhirnya menemukan titik terang.

Satu dari sembilan korban, Nemerina Wamang, berhasil dievakuasi ke Timika menggunakan helikopter Polri, Senin (14/9/2026).

Proses evakuasi Nemerina bukan misi yang mudah. Kondisi cuaca yang berubah-ubah membuat tim harus berhati-hati sebelum helikopter diterbangkan menuju Kampung Bela 1, lokasi korban ditemukan.

Setibanya di Timika, Nemerina langsung dibawa ke RS Bhayangkara Polda Papua Tengah di Jalan Amimuga Mile 32 untuk mendapatkan perawatan medis.

Kondisi fisik dan psikologis Nemerina kini menjadi perhatian utama. Polisi belum meminta keterangan mendalam karena korban diduga masih mengalami trauma akibat pengalaman yang dialaminya selama penyanderaan.

Empat Kali Uji Penerbangan

Kapolda Papua Tengah Brigjen Pol. Jermias Rontini datang langsung menjenguk Nemerina di rumah sakit.

Ia mengatakan, keberhasilan mengevakuasi Nemerina merupakan hasil dari kerja keras tim yang terus berupaya mencari cara agar bisa menjangkau lokasi korban.

“Puji Tuhan, hari ini kami Kepolisian berhasil membawa satu dari sembilan sandera tersebut. Korban dievakuasi dari Kampung Bela 1 ke Timika menggunakan fasilitas helikopter Polri,” ujar Jermias kepada wartawan di rumah sakit.

Menurut dia, sebelum masuk ke wilayah Bela, kru helikopter Polri harus melakukan sejumlah uji penerbangan untuk memastikan kondisi cuaca dan keamanan penerbangan.

“Empat kali kita melakukan uji penerbangan. Kita melihat situasi cuaca, kemudian baru akhirnya bisa masuk dan mengevakuasi korban,” katanya.

Perjuangan tersebut akhirnya membuahkan hasil. Nemerina berhasil dibawa keluar dari wilayah yang sulit dijangkau dan mendapatkan penanganan medis di Timika.

Kondisi Fisik dan Psikologis Jadi Prioritas

Sesampainya di rumah sakit, polisi belum langsung meminta Nemerina menceritakan apa yang dialaminya.

Menurut Jermias, kondisi korban harus dipulihkan terlebih dahulu. Bagi kepolisian, keselamatan dan kesehatan Nemerina jauh lebih penting sebelum proses pemeriksaan dilakukan.

“Jadi sejauh ini kita belum bisa memberikan kesimpulan apa saja yang dialami korban. Karena kita belum bisa meminta keterangan. Saat ini kita serahkan perawatannya kepada pihak rumah sakit, dalam hal ini Dr. Marlina dan tim, sambil melihat perkembangan psikologis korban ke depan,” kata Jermias.

Ia berharap kondisi Nemerina segera membaik sehingga nantinya dapat memberikan informasi yang dibutuhkan untuk membantu proses penyelamatan korban lainnya.

Polisi juga berencana melibatkan keluarga dalam proses komunikasi dengan Nemerina.

“Nanti kita akan libatkan keluarga dalam proses komunikasi ke korban, termasuk menggunakan bahasa daerah, agar korban merasa lebih nyaman dan dapat menceritakan apa yang dialaminya selama penyanderaan,” ujarnya.

Kesaksian Nemerina Diharapkan Jadi Petunjuk

Bagi aparat, Nemerina bukan hanya korban yang berhasil diselamatkan. Kesaksiannya nantinya diharapkan dapat menjadi pintu masuk untuk mengetahui keberadaan tujuh korban lainnya.

“Kita upayakan satu saksi yang hari ini kita evakuasi bisa memberikan keterangan di mana tujuh lainnya itu, sehingga kita bisa lakukan langkah-langkah berikutnya. Kesaksian korban dapat menjadi titik awal untuk mengungkap pelaku penyanderaan secara perlahan,” jelas Jermias.

Meski demikian, polisi tidak ingin terburu-buru mengambil kesimpulan mengenai kondisi korban lainnya maupun lokasi mereka saat ini.

Jermias memastikan upaya penyelamatan akan terus dilakukan dengan mempertimbangkan keselamatan seluruh pihak.

“Sampai saat ini tujuh korban lainnya masih dalam penguasaan kelompok penyandera. Kita akan terus berupaya untuk menyelamatkan mereka, sekaligus menjaga persoalan ini agar tidak berkembang yang dapat menimbulkan konflik baru,” pungkasnya.

Tak Ingin Muncul Konflik Baru

Selain menyelamatkan para korban, kepolisian juga berupaya agar persoalan penyanderaan tersebut tidak berkembang menjadi konflik baru antarkelompok maupun antarkampung.

Jermias menegaskan, pihaknya tidak menginginkan persoalan tersebut kemudian memicu pertentangan antara satu pihak dengan pihak lainnya atau antara satu kampung dengan kampung lainnya.

Karena itu, pendekatan kemanusiaan dan komunikasi dengan berbagai pihak menjadi bagian penting dalam proses penyelesaian persoalan tersebut.

Keberhasilan evakuasi Nemerina juga tidak lepas dari dukungan berbagai pihak, termasuk masyarakat setempat.

Jermias memberikan apresiasi kepada kru helikopter Polri yang tetap menjalankan misi kemanusiaan meski harus menghadapi kondisi cuaca yang tidak menentu.

“Kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak, termasuk Ketua Majelis Rakyat Papua (MRP) yang membantu membangun komunikasi dengan berbagai pihak. Dukungan masyarakat di Jila, Bela, Alama, dan wilayah sekitarnya juga dinilai berperan penting dalam keberhasilan evakuasi,” tutupnya.

Evakuasi Nemerina menjadi secercah harapan di tengah upaya panjang menyelamatkan korban lainnya. Setelah satu korban berhasil dibawa ke tempat aman, kepolisian kini menghadapi tugas berikutnya: menemukan dan menyelamatkan tujuh korban yang masih berada dalam penguasaan kelompok penyandera. (Humas/her)

 

20 Hari Bertahan di Hutan, Demerina Korban Penculikan KKB di Mimika Akhirnya Dievakuasi

MIMIKA,PAPUTENG.com –

Setelah sekitar 20 hari bertahan dalam kondisi sulit di tengah hutan, Demerina Uamang (23), salah satu korban penculikan kelompok kriminal bersenjata (KKB) di Jila, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, akhirnya berhasil dievakuasi ke Timika.

Demerina merupakan satu dari sembilan warga yang sebelumnya dilaporkan menjadi korban penculikan pada 17 Agustus 2026.

Satgas Kepolisian Operasi Damai Cartenz-2026 bersama Polres Mimika dan tokoh masyarakat menjemput Demerina dari Kampung Bela 1, Distrik Alama, Kabupaten Mimika, Senin (14/9/2026).

Dalam proses evakuasi tersebut, tim juga mendapat dukungan dari Ketua Majelis Rakyat Papua (MRP) Papua Tengah Agustinus Anggaibak serta kepala kampung setempat.

Bertahan 20 Hari di Tengah Hutan

Kasatgas Humas Operasi Damai Cartenz-2026 Kombes Pol Yusuf Sutejo mengatakan, keberhasilan mengevakuasi Demerina merupakan hasil koordinasi antara aparat keamanan dan tokoh masyarakat.

“Alhamdulillah, hari ini Satgas Operasi Damai Cartenz bersama Polres Mimika dan dibantu oleh tokoh masyarakat yang ada di Mimika telah berhasil mengevakuasi satu korban selamat atas nama Demerina Uamang,” kata Yusuf saat dikonfirmasi, Senin (14/9/2026).

Informasi mengenai keberadaan Demerina pertama kali diterima aparat pada 7 September 2026.

Saat itu, seorang kepala kampung dari Kampung Bela 1 mendatangi Distrik Jila dan melaporkan bahwa masyarakat menemukan seorang korban selamat di wilayah Bela.

Namun, identitas korban saat itu belum diketahui.

Satgas kemudian melakukan investigasi dan identifikasi. Hasilnya, korban tersebut dipastikan merupakan Demerina, salah satu warga yang menjadi korban penculikan pada 17 Agustus 2026.

“Awalnya mereka tidak mengetahui siapa korban tersebut. Kemudian kami melakukan investigasi dan proses identifikasi. Hasilnya, benar bahwa adik Demerina Uamang merupakan korban penculikan yang terjadi pada 17 Agustus yang lalu,” jelas Yusuf.

Demerina ternyata ditemukan tidak seorang diri.

Ia bersama seorang rekannya, Yosina. Namun, saat ditemukan, kondisi Yosina sudah sangat lemah hingga akhirnya meninggal dunia.

“Adik Uamang ini tidak sendirian. Pada saat ditemukan tanggal 7 September, bersama seorang rekannya, yaitu adik Yosina. Namun, sangat disayangkan, adik Yosina ditemukan telah meninggal dunia karena kondisinya sangat kurus dan tidak mendapat asupan makanan,” ungkap Yusuf.

Menurut Yusuf, kedua korban telah bertahan sekitar 20 hari dalam kondisi yang sangat berat.

Demerina ditemukan dalam kondisi lemah. Warga Kampung Bela kemudian berinisiatif merawatnya hingga kondisinya memungkinkan untuk dievakuasi.

“Mereka berjuang selama 20 hari di hutan, tidak makan dan minum. Demikian juga adik Demerina Uamang ditemukan dalam kondisi fisik yang lemah,” katanya.

“Warga kampung yang ada di Bela berinisiatif membantu merawat sehingga adik Demerina ini bisa selamat,” lanjut Yusuf.

Empat Hari Terkendala Cuaca

Setelah mendapat informasi keberadaan Demerina, Satgas Operasi Damai Cartenz, Polres Mimika dan tokoh masyarakat langsung berkoordinasi untuk menyiapkan proses evakuasi.

Namun, upaya tersebut tidak bisa langsung dilakukan.

Kondisi cuaca buruk membuat helikopter tidak dapat mencapai lokasi tempat Demerina berada.

“Kegiatan ini menggunakan helikopter milik Satgas Operasi Damai Cartenz. Namun, setelah kita rencanakan, empat hari yang lalu kita sama sekali tidak bisa masuk ke lokasi karena faktor cuaca yang buruk, sehingga helikopter kita tidak bisa menembus ke sana,” ujar Yusuf.

Kesempatan akhirnya datang pada Senin pagi.

Cuaca dinilai cukup memungkinkan sehingga tim langsung bergerak menuju lokasi.

“Tadi pagi, Alhamdulillah, cuaca agak sedikit baik sehingga kita bisa masuk. Didukung personel Satgas Damai Cartenz dengan helikopter, didampingi tokoh masyarakat dan kepala kampung, kita melaksanakan evakuasi,” katanya.

Demerina kemudian dibawa menggunakan Helikopter Bell Polri P-3002 milik Satgas Kepolisian Operasi Damai Cartenz-2026.

Helikopter tiba di Landasan Heli Mako Yon B Pelopor Sat Brimobda Papua Tengah sekitar pukul 09.08 WIT.

Langsung Dibawa ke Rumah Sakit

Setibanya di Timika, Demerina langsung dibawa ke RS Bhayangkara Timika untuk menjalani pemeriksaan kesehatan dan mendapatkan penanganan medis.

“Kita bawa ke Rumah Sakit Bhayangkara yang ada di Timika untuk dilakukan pemeriksaan kesehatan dan pemberian obat-obatan untuk mendukung fisiknya agar kembali menjadi baik dan stabil. Sekarang masih dalam proses pemulihan,” kata Yusuf.

Namun, kondisi psikologis Demerina masih terguncang.

Polisi belum dapat meminta keterangan secara mendalam karena Demerina masih mengalami syok.

“Sementara adik Demerina belum dapat kita minta memberikan keterangan karena kondisinya memang sangat syok. Mungkin dia melihat bagaimana rekannya, adik Yosina, meninggal dunia di sampingnya,” ungkap Yusuf.

Yosina sendiri telah dimakamkan secara adat oleh masyarakat di Kampung Bela.

Tujuh Korban Lain Masih Dicari

Setelah berhasil mengevakuasi Demerina, aparat kini masih berupaya menyelamatkan tujuh korban lainnya yang disebut masih hidup.

Yusuf meminta masyarakat Timika dan sekitarnya tetap tenang serta tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi.

“Khusus kepada warga masyarakat yang ada di Timika dan sekitarnya, kami mohon agar tetap tenang, karena pihak kepolisian, Satgas Damai Cartenz dan Polres jajaran tetap akan mengupayakan mengevakuasi korban yang selamat lainnya,” ujarnya.

Kepala Operasi Damai Cartenz-2026 Irjen Pol Faizal Ramadhani mengatakan keselamatan korban menjadi prioritas dalam setiap proses evakuasi.

Menurut dia, kondisi medan dan cuaca menjadi faktor penting yang harus diperhitungkan dalam proses penyelamatan.

“Prioritas kami adalah memastikan korban dapat dijemput dan dievakuasi dengan selamat. Komunikasi dengan semua pihak menjadi kunci utama dalam menjaga kondusivitas kamtibmas,” kata Faizal.

Ia menegaskan, proses evakuasi membutuhkan koordinasi dan kesabaran agar keselamatan korban maupun tim tetap terjaga.

“Setelah berhasil dievakuasi, kami memastikan korban mendapatkan pemeriksaan dan penanganan medis terlebih dahulu,” ujarnya.

Wakaops Damai Cartenz-2026 Kombes Pol Adarma Sinaga menambahkan, proses penjemputan dilakukan secara terukur dengan mempertimbangkan keamanan, kondisi medan, cuaca, dan situasi di lapangan.

“Proses penjemputan tidak dapat dilakukan secara terburu-buru. Kami harus memastikan seluruh aspek keamanan dan keselamatan terpenuhi,” kata Adarma.

Keluarga Bersyukur Demerina Selamat

Keluarga korban menyambut lega keberhasilan evakuasi Demerina.

Nelson Mom, salah satu keluarga korban, mengatakan Demerina bersama korban lainnya mengalami kondisi yang sangat berat selama berada dalam penguasaan kelompok bersenjata.

“Selama dalam penyanderaan, kami mengalami keadaan yang sangat sulit. Kami tidak mendapatkan makanan dan kondisi sangat berat. Kami bersyukur Demerina sekarang sudah berhasil dijemput dan bisa mendapatkan pemeriksaan di Timika,” ujar Nelson.

Satgas Operasi Damai Cartenz-2026 mengimbau masyarakat yang mengetahui informasi mengenai keberadaan tujuh korban lainnya agar segera melaporkannya kepada aparat keamanan atau pihak berwenang.

Masyarakat juga diminta tidak melakukan tindakan sendiri yang dapat membahayakan keselamatan korban maupun warga lainnya.

Evakuasi Demerina menjadi langkah awal dalam upaya menyelamatkan korban lain yang masih berada dalam situasi tersebut.

Aparat bersama tokoh masyarakat berkomitmen melanjutkan pencarian dan evakuasi dengan mengutamakan keselamatan, kemanusiaan, serta koordinasi dengan berbagai pihak. (erna)

 

Kebakaran Pasar Bapouda Paniai Tewaskan 11 Orang, 148 Warga Mengungsi

PANIAI,PAPUTENG.com  –

Kebakaran melanda kawasan Pasar Kampung Bapouda, Distrik Paniai Timur, Kabupaten Paniai, Papua Tengah, Senin (7/9/2026) sekitar pukul 00.25 WIT.

Kebakaran tersebut menghanguskan 49 bangunan yang terdiri dari rumah dan kios. Sebanyak 148 warga kehilangan tempat tinggal dan terpaksa mengungsi.

Tak hanya menyebabkan kerugian materi, kebakaran itu juga menewaskan 11 orang. Para korban terdiri dari lima orang dewasa dan enam anak-anak.

Pasca-kejadian, Kapolda Papua Tengah Brigjen Pol Jermias Rontini menurunkan tim dari Polda Papua Tengah untuk membantu proses penyelidikan guna mengungkap penyebab kebakaran.

Pelaksana Tugas Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Papua Tengah Kompol Henry J Manurung mengatakan, Kapolda memerintahkan Direktur Reserse Kriminal Umum Kombes Pol Asep Sayidi Wijaya dan Direktur Reserse Kriminal Khusus Kombes Pol I Ketut Suarnaya turun langsung ke Paniai.

“Atas perintah Bapak Kapolda, kedua PJU (Pejabat Utama) datang ke Paniai untuk membantu proses penyelidikan sehingga penyebab kebakaran dapat segera diketahui,” kata Manurung kepada wartawan.

Selain dua pejabat utama tersebut, Polda Papua Tengah juga mengirim lima perwira berpangkat perwira menengah dan pertama serta anggota Reskrim untuk membantu penyelidikan di lokasi kejadian.

11 Orang Tewas

Manurung mengatakan, berdasarkan hasil olah tempat kejadian perkara (TKP) sementara, tercatat 49 unit bangunan berupa rumah dan kios hangus terbakar.

“Dari olah tempat kejadian perkara sementara, tercatat 49 unit bangunan, terdiri dari kios dan rumah, hangus terbakar, dan 148 orang kehilangan tempat tinggal,” ujarnya.

Sementara itu, 11 orang meninggal dunia akibat kebakaran. Lima korban merupakan orang dewasa, sedangkan enam lainnya adalah anak-anak.

Lima korban dewasa yakni Najamuddin (70), Wandi (36), Hasyim (30), Rizka Falma (28), dan Herlina (30).

Adapun enam korban anak-anak adalah Aska (9), Abie (6), Adit (5), Ardi (9), Icha (6), dan Ai Yusuf (2).

“Saat ini seluruh korban jiwa disemayamkan di RSUD Paniai. Rencana visum akan kita lakukan kepada para korban, namun kita masih menunggu izin dari pihak keluarga,” kata Manurung.

Warga Mengungsi

Sebanyak 148 warga yang kehilangan tempat tinggal telah mendapat tempat pengungsian sementara.

Kepolisian mendirikan posko pengungsian di halaman Polsek Paniai Timur. Namun, sebagian besar warga memilih tinggal sementara di rumah keluarga masing-masing.

Polisi hingga kini belum dapat memastikan penyebab kebakaran. Untuk membantu proses penyelidikan, Polda Papua Tengah akan mendatangkan tim Disaster Victim Identification (DVI) dan Laboratorium Forensik (Labfor).

“Saat ini kami belum bisa memastikan penyebab kebakaran. Upaya yang kami lakukan antara lain mendatangkan tim DVI dan Labfor dari Pusdokes Polda Papua untuk membantu penyelidikan,” ujar Manurung.

Menurut dia, penyidik masih fokus mengumpulkan barang bukti di lokasi kejadian serta memeriksa sejumlah saksi.

“Kami fokus mengumpulkan barang bukti dan meminta keterangan saksi-saksi. Sehingga kami belum bisa berandai-andai dalam mengungkap penyebab kebakaran,” katanya.

Polisi juga mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum dapat dipastikan kebenarannya.

“Kami minta masyarakat menyerahkan sepenuhnya penanganan kasus ini kepada pihak kepolisian dan tidak terpancing kabar yang belum tentu benar. Jika menemukan informasi penting, laporkan kepada aparat agar dapat ditindaklanjuti,”pungkasnya. (ist)

  

Kapolda Paputeng Dukung Penguatan Otonomi Khusus dan Percepatan Pembangunan di Tanah Papua

TIMIKA,PAPUTENG.com  –

Kapolda Papua Tengah (Paputeng), Brigjen Pol Jermias Rontini menghadiri rapat koordinasi seluruh kepala daerah se-Tanah Papua dalam rangka memperkuat implementasi Otonomi Khusus (Otsus) dengan fokus pada sinkronisasi program pembangunan, penguatan kelembagaan, serta penyaluran dana Otsus yang berkualitas dan tepat sasaran.

Rapat koordinasi dibingkai dalam Forum Koordinasi Strategis Percepatan Pembangunan dan Penguatan Implementasi Kebijakan Otsus Papua tersebut berlangsung di Hotel Horison Diana, Kabupaten Mimika, Senin (11/5/2026).

Kegiatan tersebut dihadiri para kepala daerah, unsur Forkopimda, serta berbagai pemangku kepentingan guna menyatukan langkah dalam mendukung pembangunan yang merata dan berkelanjutan di seluruh wilayah Papua.

Brigjen Pol. Jermias Rontini menegaskan komitmen Polri untuk mendukung penuh program-program pembangunan yang dijalankan pemerintah daerah di Tanah Papua.

Menurutnya, stabilitas keamanan menjadi salah satu faktor penting dalam mempercepat pembangunan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Polri siap mendukung seluruh program pembangunan di Tanah Papua, terlebih di Provinsi Papua Tengah. Kami akan memerintahkan seluruh jajaran untuk bersinergi dan mendukung kebijakan pemerintah daerah demi terciptanya Papua yang aman, maju, dan sejahtera,”tukasnya.

Kapolda Papua Tengah juga menyampaikan dukungannya terhadap pernyataan Ketua Asosiasi Kepala Daerah se-Tanah Papua, Meki Fritz Nawipa, yang menegaskan bahwa forum tersebut menjadi momentum penting untuk menyatukan arah, komitmen, dan langkah bersama dalam mempercepat pembangunan Papua yang lebih sejahtera, inklusif, dan berdaya.

“Melalui koordinasi antara pemerintah daerah, aparat keamanan, dan seluruh elemen masyarakat menjadi kunci utama keberhasilan implementasi Otsus Papua agar manfaat pembangunan dapat dirasakan secara nyata oleh masyarakat hingga ke daerah terpencil,” lugasnya.

Rakor diharapkan mampu menghasilkan langkah strategis dan konkret dalam memperkuat tata kelola pemerintahan, meningkatkan efektivitas penggunaan dana Otsus, serta mempercepat pembangunan di berbagai sektor demi mewujudkan Papua yang maju dan sejahtera. (RP)

Diduga Keracunan MBG, 7 Siswa SD Inpres Oyehe Nabire Sempat Dilarikan ke Klinik

NABIRE,PAPUTENG.com

Sebanyak 7 siswa SD Inpres Oyehe Nabire dilaporkan mengalami dugaan keracunan usai mengonsumsi program Makanan Bergizi Gratis (MBG) pada Rabu (16/4/2026).

Kepala Sekolah SD Inpres Oyehe Nabire, Yosef Panggua, saat dikonfirmasi pada Kamis (17/4), menjelaskan bahwa pembagian MBG dilakukan mulai pukul 09.00 WIT kepada siswa dan guru.

Namun beberapa jam setelah mengonsumsi makanan tersebut, sejumlah siswa mengalami gejala tidak biasa hingga akhirnya harus mendapatkan penanganan medis di klinik.

“Yang terdampak sebanyak tujuh siswa, terdiri dari enam siswa kelas VI dan satu siswa kelas II,” ungkap Yosef.

Para siswa kemudian dibawa ke Klinik Alfa Nabire untuk mendapatkan pertolongan medis lebih lanjut. Kondisi mereka dilaporkan membaik setelah mendapatkan perawatan selama beberapa jam.

Sementara itu, Koordinator Wilayah (Korwil) MBG, Marsel Asyerem, menyampaikan bahwa pihaknya telah melakukan konfirmasi langsung ke sekolah terkait video dugaan keracunan yang beredar.

Menurutnya, berdasarkan keterangan awal dari pihak sekolah dan hasil komunikasi dengan tenaga medis, kasus tersebut diduga bukan keracunan makanan, melainkan reaksi alergi udara.

“Dari hasil konfirmasi dengan kepala sekolah, memang ada tujuh siswa, tetapi berdasarkan keterangan medis sementara itu karena alergi udara,” ujar Marsel.

Ia menambahkan pihak mitra penyedia makanan telah bertanggung jawab dan memastikan penanganan terhadap para siswa terdampak. Dari tujuh siswa tersebut, lima sempat dirawat dan dua lainnya diperbolehkan pulang setelah kondisi membaik.

“Semua sudah mendapatkan penanganan medis selama 3–4 jam dan sudah diperbolehkan pulang,” jelasnya.

Meski demikian, pihak MBG menyatakan masih akan menunggu hasil pemeriksaan medis lanjutan untuk memastikan penyebab pasti kejadian tersebut.

Kasus ini kini masih dalam perhatian pihak terkait, sembari menunggu kepastian hasil medis guna memastikan apakah insiden tersebut benar disebabkan oleh makanan atau faktor lain. (ist)

Tiga Warga Sipil Alami Luka Tembak di Sinak, Diduga Akibat Serangan OPM

PUNCAK, Paputeng.com –

Tiga warga sipil dilaporkan mengalami luka tembak akibat dugaan penyerangan yang dilakukan kelompok Organisasi Papua Merdeka (OPM) di Distrik Sinak, Kabupaten Puncak, Provinsi Papua Tengah, Rabu (15/4/2026) sekitar Pukul 08.00 WIT.

Informasi mengenai kejadian tersebut disampaikan  Kepala Suku Kampung Tirineri, Dianus Enumbi. Ia melaporkan bahwa terdapat tiga korban dari masyarakat Sinak yang mengalami luka tembak dan berada di sebuah honai laki-laki milik Gerson Telenggeng saat pertama kali ditemukan.

Menindaklanjuti laporan tersebut serta permintaan masyarakat setempat, personel Satgas TNI bersama Kodim 1714/Puncak Jaya dan Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Puncak Jaya segera bergerak menuju lokasi untuk mengevakuasi para korban.

Ketiga korban kemudian dievakuasi menuju Rumah Sakit Mulia guna mendapatkan penanganan medis lebih lanjut.

Sementara itu secara terpisah Kepala Penerangan Kodam XVII/Cenderawasih, Kolonel Inf. Tri Purwanto, menyampaikan keprihatinannya atas insiden kekerasan yang menimpa warga sipil tersebut.

“Warga sipil seharusnya dilindungi, bukan dijadikan sasaran kekerasan. Saat ini ketiga korban sedang dalam proses evakuasi oleh aparat TNI bersama Pemerintah Daerah Puncak Jaya untuk mendapatkan perawatan,”kata Tri.

Dirinya mengimbau masyarakat agar tetap waspada terhadap situasi keamanan di wilayah tersebut serta segera melaporkan kepada aparat apabila menemukan informasi atau kejadian serupa.

Hingga saat ini, aparat keamanan masih terus melakukan pemantauan situasi di Distrik Sinak guna memastikan kondisi tetap aman bagi masyarakat setempat. (ina)

Dukcapil Deiyai Ajak Warga Tingkatkan Perekaman e-KTP

DEIYAI, PAPUTENG.com– Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Kabupaten Deiyai mengajak seluruh masyarakat untuk segera melakukan perekaman KTP elektronik (e-KTP) di kantor Dukcapil setempat.

Ajakan tersebut disampaikan oleh Pemanfaatan Data Inovasi Pelayanan Dukcapil Deiyai, Yulianus Madai, S.Th, kepada wartawan di Kantor Bupati Deiyai, Jumat (10/4/2026).

“Kami mengajak semua komponen untuk bekerja sama mengajak seluruh warga di Deiyai melakukan perekaman e-KTP,” ujar Madai.

Ia menjelaskan, perekaman e-KTP ditujukan bagi warga berusia 17 tahun ke atas, serta dapat dilakukan sejak usia 16 tahun untuk keperluan pendaftaran administrasi kependudukan.

Madai juga meminta peran aktif kepala distrik dan kepala kampung untuk mendukung percepatan perekaman dengan memanfaatkan sebagian dana desa guna kegiatan pelayanan administrasi kependudukan.

“Dengan bertambahnya jumlah penduduk, kita bersama mewujudkan visi Bupati Deiyai, bahwa seluruh warga harus memiliki dokumen kependudukan di akhir masa jabatan,” jelasnya.

Sementara itu, berdasarkan data resmi Pemerintah Provinsi Papua Tengah melalui Dinas Administrasi Kependudukan, Pencatatan Sipil, Pemberdayaan Masyarakat, dan Kampung, jumlah penduduk Papua Tengah tercatat sebanyak 1.384.227 jiwa.

Dari jumlah tersebut, Kabupaten Deiyai menjadi daerah dengan jumlah penduduk terkecil, yakni 93.772 jiwa pada triwulan I tahun 2026.

Madai menegaskan bahwa peningkatan jumlah perekaman e-KTP menjadi penting untuk memastikan seluruh warga tercatat dalam data kependudukan secara valid.

Ia juga menyampaikan bahwa data penduduk Deiyai terus mengalami peningkatan, yakni 92.629 jiwa pada tahun 2024, meningkat menjadi 93.168 jiwa pada tahun 2025, dan kembali naik menjadi 93.772 jiwa pada triwulan I tahun 2026.

Di sisi lain, Bupati Deiyai Melkianus Mote juga menegaskan pentingnya kepemilikan dokumen kependudukan bagi seluruh warga. Ia menyebutkan bahwa penyaluran bantuan ke depan akan berbasis data e-KTP.

“Ke depan, bantuan akan disalurkan berbasis e-KTP. Saya tidak akan memberikan bantuan jika tidak memiliki e-KTP. Karena itu, semua warga harus memiliki dokumen kependudukan,” tegasnya.

Pemerintah Kabupaten Deiyai berharap kerja sama semua pihak dapat meningkatkan cakupan perekaman e-KTP demi mendukung tertib administrasi kependudukan di wilayah tersebut. (PK)

Pembangunan Jembatan Perintis Garuda Titik Kedua Dimulai di Nabire

NABIRE, PAPUTENG.com –

Harapan baru bagi peningkatan akses transportasi dan kesejahteraan masyarakat kembali terwujud dengan dimulainya pembangunan Jembatan Perintis Garuda di titik kedua. Pembangunan tersebut ditandai dengan peletakan batu pertama di Jalan Ilaga, Kelurahan Girimulyo, Kabupaten Nabire, Papua Tengah, Sabtu (11/4/2026).

Kegiatan ini merupakan kelanjutan dari pembangunan tahap sebelumnya yang telah berjalan dengan baik, sekaligus menjadi wujud komitmen pemerintah bersama TNI dalam membuka akses transportasi dan mempercepat pembangunan di wilayah Papua Tengah.

Program pembangunan jembatan tersebut merupakan bagian dari kebijakan strategis nasional yang digagas Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, dengan pelaksanaan di lapangan melibatkan Kodim 1705/Nabire sebagai unsur pelaksana di wilayah.

Dalam sambutan Kepala Distrik Nabire yang dibacakan oleh Kepala Kelurahan Girimulyo, Ferdinan Pattiruhu, disampaikan apresiasi kepada jajaran TNI, khususnya Kodam XVII/Cenderawasih dan Kodim 1705/Nabire, atas kontribusi nyata dalam mendukung pembangunan infrastruktur di daerah.

“Pembangunan jembatan ini memiliki peran strategis sebagai penghubung antarwilayah, sekaligus menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi, memperlancar mobilitas masyarakat, serta membuka akses pelayanan publik yang lebih luas,” ujarnya.

Sementara itu, Danrem 173/PVB Brigjen TNI Vivin Alivianto, S.I.P., dalam sambutan tertulis yang dibacakan oleh Kasiter Korem 173/PVB Kolonel Inf Fajar Wibawa Angkasa, menegaskan bahwa pembangunan Jembatan Perintis Garuda bukan sekadar proyek fisik, melainkan bentuk nyata kehadiran negara dalam menjawab kebutuhan masyarakat.

“Pembangunan ini merupakan langkah konkret dalam memperkuat konektivitas, meningkatkan aksesibilitas, serta mendorong pemerataan pembangunan yang berkeadilan,” ungkapnya.

Ia juga menjelaskan pada tahun 2026, Korem 173/PVB merencanakan pembangunan jembatan di empat titik, yang terdiri dari dua jembatan beton pada tahap awal dan dua jembatan aramco pada tahap lanjutan.

Keberadaan jembatan tersebut diharapkan mampu memberikan dampak positif bagi masyarakat, mulai dari memperlancar distribusi hasil pertanian dan perkebunan, memudahkan akses pendidikan bagi anak-anak, hingga mendukung berbagai aktivitas ekonomi dan sosial lainnya.

Pelaksanaan peletakan batu pertama ini juga menjadi simbol kuat sinergi antara pemerintah, TNI-Polri, serta masyarakat dalam mendukung pembangunan yang berkelanjutan di Papua.

Dengan dimulainya pembangunan di titik kedua ini, masyarakat Girimulyo menaruh harapan besar agar proyek Jembatan Perintis Garuda dapat segera rampung dan memberikan manfaat nyata, terutama dalam membuka keterisolasian wilayah serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara menyeluruh. (rls/timred)

Datangi Honai Warga, Satgas Yonif 743 Berikan Layanan Kesehatan di Pruleme

MULIA, PAPUTENG.com –   

Ditengah keterbatasan akses layanan kesehatan di wilayah pegunungan Papua, kehadiran Satgas Yonif 743/PSY menjadi harapan bagi masyarakat Kampung Pruleme, Distrik Mulia, Kabupaten Puncak Jaya, Provinsi Papua Tengah. Sabtu (11/4/2026).

Melalui kegiatan pelayanan kesehatan keliling, tim kesehatan Satgas mendatangi honai-honai warga untuk memberikan pemeriksaan kesehatan, konsultasi medis, serta pembagian obat-obatan kepada masyarakat setempat.

Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi layanan medis semata, tetapi juga wujud kepedulian dan kedekatan TNI dengan masyarakat di wilayah penugasan.

Bintara Kesehatan Satgas Yonif 743/PSY, Sertu Fandi, mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen pengabdian TNI kepada masyarakat, khususnya di daerah yang memiliki keterbatasan fasilitas kesehatan.

“Kami ingin hadir langsung di tengah masyarakat untuk membantu meringankan beban mereka, terutama dalam hal kesehatan. Harapannya, kehadiran kami dapat memberikan manfaat nyata sekaligus mempererat hubungan kekeluargaan antara Satgas dan warga,” ujarnya.

Kehadiran prajurit TNI tersebut disambut hangat oleh masyarakat Kampung Pruleme. Warga merasa sangat terbantu dengan pelayanan kesehatan yang diberikan, mengingat sulitnya akses menuju fasilitas medis di wilayah tersebut.

Tokoh masyarakat setempat, Nelius Tabuni, menyampaikan rasa syukur dan apresiasi atas perhatian yang diberikan oleh Satgas Yonif 743/PSY kepada masyarakat.

“Kami sangat berterima kasih atas kepedulian bapak-bapak TNI. Bantuan ini sangat berarti bagi kami, terutama karena layanan kesehatan sulit kami jangkau. Semoga kegiatan seperti ini dapat terus dilaksanakan,” ungkapnya.

Melalui kegiatan ini, Satgas Yonif 743/PSY menegaskan bahwa kehadiran TNI di Papua tidak hanya untuk menjaga keamanan, tetapi juga berperan aktif dalam membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya di bidang kesehatan. (rls/ist)

Pembangunan Jembatan Perintis Garuda di Nabire, Dorong Konektivitas dan Ekonomi Lokal

NABIRE, PAPUTENG.com — Upaya percepatan pembangunan infrastruktur di Papua Tengah kembali menunjukkan progres nyata dengan dimulainya pembangunan Jembatan Perintis Garuda di Kampung Waroki, Distrik Kimi, Kabupaten Nabire, Rabu (8/4/2026). Kegiatan ground breaking ini menjadi tanda resmi dimulainya proyek strategis nasional tersebut.

Kegiatan dihadiri Kepala Seksi Teritorial (Kasiter) Kasrem 173/PVB, Kolonel Inf Fajar Wibawa Angkasa, mewakili Danrem 173/PVB, bersama unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), tokoh agama, tokoh masyarakat, serta tokoh adat setempat.

Dalam sambutan yang dibacakan Kasiter mewakili Danrem 173/PVB, Brigjen TNI Vivin Alivianto, S.I.P., disampaikan bahwa pembangunan Jembatan Perintis Garuda bukan hanya proyek fisik, tetapi bagian dari Program Strategis Nasional yang digagas langsung oleh Presiden Republik Indonesia.

“Program ini merupakan komitmen kuat pemerintah dalam mendorong percepatan pembangunan infrastruktur, khususnya di wilayah yang masih membutuhkan akses konektivitas yang lebih baik,” bunyi sambutan tersebut.

Jembatan Perintis Garuda diharapkan menjadi penghubung vital yang mempermudah akses antarwilayah, khususnya di Distrik Kimi dan sekitarnya. Dengan terbukanya akses transportasi, aktivitas ekonomi masyarakat diyakini akan meningkat, sekaligus mendukung kesejahteraan warga.

Pada tahap awal, pembangunan mencakup empat unit jembatan, terdiri dari dua jembatan beton dan dua jembatan armaco. Proyek ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat konektivitas dan mendukung integrasi pembangunan di wilayah Papua Tengah.

Momentum ground breaking ini juga mencerminkan sinergi yang kuat antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, TNI, serta seluruh elemen masyarakat. Dukungan dari tokoh agama, adat, dan masyarakat menunjukkan bahwa pembangunan ini menjadi harapan bersama untuk masa depan yang lebih baik.

Dengan dimulainya pembangunan Jembatan Perintis Garuda, diharapkan tidak hanya membuka akses transportasi, tetapi juga menciptakan peluang baru bagi pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kualitas hidup masyarakat Kabupaten Nabire. (Pendam Cenderawasih/red)