SD Negeri 03 Nabire Laksanakan TKA Perdana Selama Empat Hari

 

NABIRE, PAPUTENG.com —

SD Negeri 03 Nabire melaksanakan Tes Kemampuan Akademik (TKA) untuk pertama kalinya selama empat hari berturut-turut, mulai 20 hingga 23 April 2026. Pelaksanaan tes ini bukan sebagai penentu kelulusan, tetapi lebih difokuskan pada pengukuran kemampuan literasi membaca dan memahami teks, serta numerasi konsep dan pemahaman.

Kepala SD Negeri 03 Nabire, Irianti Hasyim, S.Pd., Gr., menjelaskan bahwa TKA merupakan program dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) yang dilaksanakan secara nasional pada 20–30 April 2026.

“Di SD Negeri 03 Nabire, ini merupakan pelaksanaan TKA perdana sejak Senin, 20 April 2026. Sebanyak 76 siswa kelas VI mengikuti tes yang dibagi dalam dua gelombang (empat hari) dengan dua sesi setiap harinya,” ujarnya saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (21/4/2026).

Ia merinci, sesi pertama berlangsung pukul 09.00–10.45 WIT, sementara sesi kedua dimulai pukul 11.015 hingga 13.00 WIT. Pada hari kedua, pelaksanaan sesi pertama diikuti 20 siswa per sesi dari gelombang 1, yang telah menyelesaikan tes Matematika pada hari pertama dan Bahasa Indonesia pada hari kedua.

Selanjutnya, pada Rabu dan Kamis (22–23 April 2026), giliran gelombang 2 yang mengikuti TKA dengan mata pelajaran yang sama. Terkait kendala, Irianti mengaku pelaksanaan TKA berjalan lancar tanpa hambatan berarti.

Namun, pembagian peserta ke dalam dua gelombang dilakukan karena keterbatasan jumlah perangkat laptop dan kapasitas ruang ujian. “Alhamdulillah, perangkat laptop cukup memadai, tetapi ruang masih terbatas. Kami menggunakan ruang UKS sebagai ruang pelaksanaan tes,” jelasnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa total jumlah siswa di SD Negeri 03 Nabire dari kelas I hingga VI mencapai 467 orang. Namun, sekolah masih menghadapi keterbatasan ruang belajar mengajar (RBM). Salah satunya, siswa kelas II harus menggunakan ruang kelas I secara bergantian dengan sistem masuk siang.

“Kami masih kekurangan ruang kelas, ruang komputer, dan perpustakaan,” tambahnya. Irianti berharap pemerintah dapat memberikan perhatian lebih terhadap kebutuhan sarana dan prasarana di SD Negeri 03 Nabire guna menunjang kegiatan belajar mengajar yang lebih optimal.

SMP YPPK Santo Antonius Nabire Perkuat Pembelajaran Digital Berbasis Internet

NABIRE, PAPUTENG.com

SMP Yayasan Pendidikan dan Persekolahan Katolik (YPPK) Santo Antonius Nabire mengawali pembelajaran Semester II Tahun Ajaran 2025–2026 dengan fokus pada penguatan sistem pembelajaran berbasis internet atau e-learning.

Kepala SMP YPPK Santo Antonius Nabire, Hery Purwanto, mengatakan peningkatan kualitas jaringan internet menjadi prioritas utama sekolah guna menunjang proses belajar mengajar yang semakin digital. Salah satu target yang dicanangkan pada tahun 2026 adalah memastikan akses internet dapat menjangkau seluruh ruang kelas, mulai dari kelas VII hingga kelas IX.

 

“Target kami tahun ini jaringan internet sudah bisa terhubung ke setiap kelas. Untuk itu, sekolah membutuhkan penambahan sedikitnya empat unit router agar koneksi lebih stabil dan merata,” ujar FX Heri Purwanto via WhatsApp, Rabu (25/2/2026).

Ia menjelaskan, saat ini SMP Santo Antonius baru mengandalkan satu router dengan layanan Indihome. Namun, keterbatasan jangkauan membuat koneksi internet belum maksimal, terutama untuk ruang-ruang kelas.

“Jaringan wifi yang ada masih sering mengalami gangguan dan belum menjangkau seluruh area kelas. Kami berharap bisa menambah empat router baru, termasuk menggunakan jaringan Starlink, agar kualitas internet lebih baik,” katanya.

Penguatan jaringan internet ini juga dinilai penting untuk mendukung pelaksanaan Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK) yang rutin diikuti sekolah setiap tahun. SMP Santo Antonius tercatat memiliki 40 unit komputer di laboratorium, yang dinilai cukup memadai untuk menunjang kebutuhan ANBK secara daring.

Sekolah yang berada di bawah naungan Yayasan Tillemans Timika tersebut saat ini menerapkan Kurikulum Merdeka dengan pendekatan deep learning yang berfokus pada tiga pilar utama; mindful learning artinya belajar dengan sadar dan penuh konsentrasi, meaningful learning berarti belajar penuh makna dan relevan, serta joyful learning berarti belajar dengan menyenangkan.

Sejalan dengan transformasi digital di dunia pendidikan, SMP Santo Antonius juga mulai memperkenalkan pembelajaran coding dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) kepada para siswa.

“Terkait pembelajaran coding dan AI, kami masih menunggu petunjuk teknis lebih lanjut dari Kemendikbud melalui Dinas Pendidikan. Namun saat ini, pengenalan dasar coding sudah mulai diberikan oleh guru IT yang kami miliki,” pungkas Heri Purwanto. (Mus)

Pemprov Papua Tengah Bantu Yayasan Mutiara Hitam 1,1 M

NABIRE,PAPUTENG –

Pemerintah Provinsi Papua Tengah berkomitmen penuh untuk mendukung pengembangan akademi Yayasan Mutiara Hitam dan Black Pearl English Academy (BPEA), sebagai pusat pembelajaran bahasa Inggris yang ditujukan khusus bagi generasi muda Orang Asli Papua (OAP).

Seperti yang disampaikan Gubernur Meki Nawipa, saat peresmian Kantor Yayasan Mutiara Hitam dan peluncuran Program Black Pearl English Academy (BPEA) yang berlangsung di Gedung Julian Yap Marei, Jalan Padat Karya Sanoba, Nabire, Kamis (26/6/2025).

Pada kesempatan itu, gubernur mengumumkan secara langsung pengalokasian dana sebesar Rp. 1 miliar dari dana Otonomi Khusus (Otsus) tahun ini untuk mendukung operasional dan pengembangan awal akademi tersebut.

“Saya bantu dari keluarga saya Rp.100 juta, dan tahun ini Pemerintah Provinsi bantu Rp.1 miliar. Kita duduk lagi, atur bersama untuk tahun depan,”kata Gubernur Nawipa, disambut tepuk tangan para undangan.

Tak hanya dari pemerintah, Gubernur secara pribadi menyumbangkan dana sebesar Rp.100 juta untuk menimbun area halaman sekolah yang belum layak pakai, sebagai bentuk keseriusannya dalam mendukung pembangunan pendidikan berbasis kemandirian lokal.

Lanjutnya Black Pearl English Academy akan diprioritaskan hanya untuk anak-anak Orang Asli Papua, dengan tujuan memaksimalkan pemanfaatan Dana Otonomi Khusus (Otsus) secara tepat sasaran.

“Ini bukan diskriminasi, tapi saya mau bantu dana Otsus dan sekolah ini hanya untuk orang asli Papua. Agar mereka percaya diri sebagai tuan di tanah ini,” tegasnya.

Lebih dari sekadar penguasaan bahasa asing, Gubernur juga menekankan pentingnya pembentukan karakter, integritas, dan identitas budaya dalam proses pendidikan. Ia berharap BPEA tidak hanya menjadi lembaga pengajaran teknis, tetapi juga tempat pembinaan nilai-nilai luhur anak Papua.

“Saya senang kalau bicara sekolah. Tapi kalau hanya datang bawa proposal minta-minta, saya tidak suka. Pendidikan harus jadi alat perubahan,”tuturnya.

Pada kesempatan itu Gubernur menyentil birokrasi pemerintahan yang cenderung menyerap anggaran hanya untuk rapat tanpa hasil nyata. Dirinya mengajak seluruh elemen untuk menggeser paradigma pembangunan dari rutinitas administrasi menuju dampak nyata bagi masyarakat, terutama di bidang pendidikan.

Dikatakannya dengan hadirnya BPEA, generasi muda Papua tidak perlu lagi keluar daerah atau ke luar negeri untuk mendapatkan pendidikan bermutu.

Menurutnya, kualitas pendidikan harus dibangun dari dalam tanah kelahiran sendiri. “Biarlah cahaya bersinar dari negeri ini, dari jantung Tanah Papua,”tukasnya.

Pada akhir sambutannya, Gubernur Meki Nawipa menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung pendirian Yayasan Mutiara Hitam. Mulai dari Ketua Yayasan, para mitra donor internasional, Sinode GKI di Tanah Papua, hingga keluarga besar Petrus Samuel Yap Marei yang telah menghibahkan lahan untuk pembangunan akademi tersebut.

“Atas nama Pemerintah Provinsi Papua Tengah, saya menyampaikan terima kasih kepada Yayasan Mutiara Hitam yang telah menginisiasi langkah nyata menuju kemandirian pendidikan di tanah ini. Tuhan memberkati seluruh pihak yang telah berkontribusi dan mengambil bagian dalam upaya mulia ini,”tuturnya.

Peresmian ini menandai langkah konkrit pemerintah daerah dalam mendorong transformasi pendidikan di Papua Tengah, serta memperkuat kemandirian OAP melalui akses terhadap pendidikan bahasa dan karakter yang berakar pada konteks lokal. (DP/lia)