NABIRE, PAPUTENG.COM – Kekeringan mulai melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Nabire, Papua Tengah. Kondisi ini berdampak langsung terhadap aktivitas pertanian, terutama di kawasan Satuan Permukiman (SP) 1, SP 2, dan SP 3 yang selama ini dikenal sebagai sentra produksi sayuran dan hortikultura.
Dalam sebulan terakhir, hujan yang biasanya turun hampir setiap hari tidak lagi mengguyur wilayah tersebut. Akibatnya, banyak petani kesulitan memperoleh pasokan air untuk mengolah lahan maupun mempertahankan pertumbuhan tanaman.
Salah seorang petani di SP 1 Kelurahan Bumi Raya, Distrik Nabire Barat, Narno, mengaku terpaksa menunda masa tanam karena lahan yang telah dipersiapkan tidak memiliki cukup air.
“Lahan yang sudah dicangkul terpaksa dibiarkan kosong karena belum ada hujan. Padahal sekarang sudah waktunya menanam tomat dan cabai rawit,” ujar Narno kepada wartawan, Selasa (4/8/2026).
Narno mengelola lahan pertanian hampir satu hektare yang dibagi menjadi beberapa petak. Petak pertama direncanakan ditanami tomat, petak kedua dan ketiga untuk cabai rawit, sedangkan petak keempat ditanami kacang panjang.

Menurutnya, tanaman kacang panjang yang sudah memasuki fase berbunga dan berbuah pun mengalami gangguan pertumbuhan akibat minimnya pasokan air. Daun, batang, hingga akar tanaman berkembang tidak maksimal sehingga dikhawatirkan memengaruhi hasil panen.
Untuk mempertahankan tanaman tetap hidup, Narno memanfaatkan air dari kolam penampungan yang dibuat menggunakan alat berat.
“Kebetulan sedang ada proyek pengerukan irigasi. Saya minta dibuatkan lubang penampungan air, tetapi air di situ juga sangat terbatas karena hanya mengandalkan hujan,” katanya.
Petani asal Wonosobo, Jawa Tengah, yang telah menetap di Nabire sejak 1984 itu mengaku kesulitan tidak hanya dirasakan pada sektor pertanian. Kebutuhan air bersih untuk memasak dan konsumsi sehari-hari juga semakin sulit dipenuhi sehingga ia terpaksa membeli air dari wilayah Karadiri, Distrik Wanggar.
Kondisi kekeringan diperparah dengan penutupan pintu air Bendung Kalibumi yang menjadi sumber irigasi bagi lahan pertanian di kawasan tersebut.
Menurut Narno, pintu air sengaja ditutup selama sekitar tujuh bulan karena sedang dilakukan revitalisasi jaringan irigasi primer, sekunder, tersier, serta pekerjaan pengaspalan jalan. Akibatnya, pasokan air ke areal persawahan dan kebun warga terhenti.
Sementara itu, Anggota Komisi B DPRK Nabire, Markus Makai, mengatakan pihaknya akan segera memanggil instansi terkait untuk membahas penanganan kekeringan yang dialami masyarakat Distrik Nabire Barat.
“Langkah kami di DPRK Nabire adalah menggelar rapat dengar pendapat (RDP) dengan mengundang dinas dan pihak-pihak terkait untuk mencari solusi terhadap persoalan kekeringan yang dialami masyarakat,” ujar Markus melalui pesan WhatsApp.
Warga berharap pemerintah dapat segera mengambil langkah cepat agar pasokan air untuk pertanian kembali normal sehingga petani tidak mengalami gagal tanam maupun gagal panen yang berpotensi mengganggu ketahanan pangan di Kabupaten Nabire.(red-paputeng)














